Hadapi Risiko dan Krisis, BRI BO Sanggau Perkuat Business Continuity Management

JurnalPatroliNews | Sanggau – Kesiapan menghadapi gangguan operasional menjadi perhatian BRI Branch Office (BO) Sanggau. Langkah tersebut dilakukan melalui sosialisasi Business Continuity Management (BCM) yang dipadukan dengan simulasi penanganan kebakaran serta pembinaan satuan pengamanan (Satpam) dan Unit Supervisi.

Kegiatan yang digelar pada Selasa (22/9/2026) tersebut diarahkan untuk memastikan seluruh personel tidak hanya memahami prosedur menghadapi keadaan darurat, tetapi juga mampu mengambil tindakan cepat ketika risiko benar-benar terjadi.

BCM sendiri merupakan pendekatan manajemen yang digunakan untuk memastikan aktivitas organisasi tetap dapat berlangsung atau segera dipulihkan ketika menghadapi gangguan maupun kondisi krisis.

Branch Office Head BRI BO Sanggau, Tri Adhi Tanuwidjaya, mengatakan kesiapsiagaan tidak cukup dibangun melalui prosedur tertulis. Setiap personel perlu memahami perannya sehingga respons terhadap kondisi darurat dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.

“Melalui sosialisasi BCM ini, kami ingin membangun awareness dan pemahaman seluruh personel agar lebih proaktif serta antisipatif terhadap potensi risiko yang dapat terjadi di lingkungan kerja,” ujar Tri Adhi Tanuwidjaya.

BCM Tak Hanya Bicara Saat Krisis

Dalam penerapannya, BCM mencakup proses untuk mengidentifikasi risiko, menyiapkan respons, menjaga fungsi penting organisasi dan mempercepat pemulihan apabila terjadi gangguan.

Di lingkungan perbankan, kesiapan tersebut menjadi bagian penting karena gangguan operasional dapat berpengaruh terhadap pelayanan kepada nasabah.

Tri Adhi menjelaskan, personel diberikan pemahaman mengenai berbagai kondisi yang berpotensi mengganggu kegiatan kantor, mulai dari kebakaran, bencana alam hingga gangguan teknis.

“Kesiapan tersebut diperlukan agar setiap individu memahami langkah yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat, mulai dari respons awal, pengamanan lingkungan, evakuasi hingga upaya pemulihan kegiatan operasional,” jelasnya.

Menurut dia, kesiapan menghadapi risiko tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pekerja. Perlindungan aset serta keberlangsungan layanan kepada nasabah juga menjadi bagian yang harus diperhitungkan.

“Dengan kesiapan yang baik, dampak gangguan terhadap aktivitas bisnis diharapkan dapat diminimalkan dan proses pemulihan dapat dilakukan secara lebih cepat serta terkoordinasi,” tegas Tri Adhi.

Simulasi Kebakaran Uji Respons Personel

Pemahaman mengenai prosedur tanggap darurat kemudian diuji melalui simulasi kebakaran.

Simulasi tersebut memberikan kesempatan kepada personel untuk mempraktikkan langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat, termasuk mengenali potensi bahaya, melakukan respons awal dan menjalankan prosedur keselamatan.

Bagi manajemen, simulasi menjadi sarana untuk melihat sejauh mana prosedur dapat dipahami dan diterapkan oleh personel di lapangan.

“Simulasi menjadi bagian penting dalam membangun respons cepat dan terukur. Personel diharapkan mampu memahami prosedur keselamatan, mengenali potensi bahaya serta mengambil langkah yang tepat untuk mencegah situasi berkembang menjadi lebih besar,” ungkap Tri Adhi.

Kegiatan semacam ini juga sejalan dengan penerapan BCM di lingkungan BRI secara lebih luas. Dalam laporan tahunannya, BRI menyebut telah menjalankan berbagai program BCM dan keselamatan kerja, termasuk penilaian risiko bencana, Business Impact Analysis, pembaruan Business Continuity Plan, Disaster Recovery Plan, Emergency Response Plan, pelatihan serta simulasi tanggap darurat di Regional Office dan Branch Office.

Satpam Jadi Garda Awal Keamanan

Selain simulasi, BRI BO Sanggau memberikan pembinaan kepada personel Satpam dan Unit Supervisi.

Pembinaan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan pengamanan serta kesiapsiagaan personel yang berada di garis depan ketika terjadi gangguan keamanan maupun keadaan darurat.

Tri Adhi menilai Satpam memiliki posisi penting dalam melakukan pengawasan lingkungan kantor, mendeteksi potensi gangguan sejak dini dan memberikan respons awal.

“Satpam sebagai salah satu unsur yang berada di garis depan dalam menjaga keamanan lingkungan kantor memiliki peran penting dalam melakukan deteksi dini, pengawasan serta memberikan respons awal apabila terjadi gangguan keamanan maupun keadaan darurat,” tegasnya.

Penguatan kapasitas secara berkelanjutan diharapkan membuat personel keamanan semakin memahami tugas dan tanggung jawabnya sekaligus mampu menjalankan prosedur sesuai ketentuan.

Menjaga Layanan Nasabah Tetap Berjalan

Bagi sektor perbankan, kesiapan menghadapi krisis memiliki dimensi yang lebih luas. Ketika terjadi gangguan, bukan hanya keselamatan personel dan keamanan aset yang harus diperhatikan, tetapi juga bagaimana layanan kepada nasabah dapat dipertahankan atau segera dipulihkan.

Karena itu, kesiapan personel, kejelasan prosedur dan koordinasi antarbagian menjadi elemen penting dalam penerapan BCM.

“BCM pada prinsipnya bagaimana kita mempersiapkan diri agar ketika terjadi gangguan atau krisis, kita sudah mengetahui apa yang harus dilakukan sehingga operasional dapat segera dipulihkan dan dampaknya dapat diminimalkan,” tutup Tri Adhi.

Melalui sosialisasi, simulasi dan pembinaan tersebut, BRI BO Sanggau memperkuat kesiapan internal menghadapi berbagai kemungkinan gangguan.

Langkah itu sekaligus menempatkan manajemen risiko dan kesinambungan operasional sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan layanan perbankan di tengah berbagai potensi kondisi darurat.

Komentar