JurnalPatroliNews – Tekanan terhadap mata uang Asia kembali terlihat pada awal perdagangan Kamis (1/10/2026). Rupiah ikut melemah seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS), sementara pelaku pasar mencermati tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan perkembangan arah kebijakan Federal Reserve.
Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip dalam perdagangan pagi, seluruh 10 mata uang Asia yang dipantau berada di zona merah. Rupiah melemah 0,25 persen ke level Rp17.915 per dolar AS sekitar pukul 09.15 WIB.
Pergerakan rupiah tersebut sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang utama Asia. Yen Jepang terkoreksi 0,46 persen menjadi JPY158,11 per dolar AS, sedangkan baht Thailand turun 0,30 persen ke level THB33,62 per dolar AS.
Won Korea Selatan dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,25 persen. Peso Filipina terkoreksi 0,17 persen, dolar Singapura turun 0,12 persen, dan dolar Taiwan melemah 0,11 persen. Sementara itu, yuan China dan dong Vietnam mencatat pelemahan yang lebih terbatas.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS atau DXY tercatat menguat 0,15 persen ke level 101,596. Penguatan dolar tersebut melanjutkan tren positif sepanjang September, ketika mata uang AS mencatat kenaikan sekitar 2 persen.
Yield Treasury Masih Jadi Perhatian
Pergerakan dolar AS tidak terlepas dari perkembangan pasar obligasi pemerintah AS. Kenaikan imbal hasil Treasury, khususnya pada tenor panjang, menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan investor global.
Reuters melaporkan pada perdagangan Selasa (29/9), yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat mencapai 5,293 persen, level tertinggi sejak pertengahan 2007. Sementara yield obligasi AS tenor 30 tahun juga mencapai level tertinggi sejak Juni 2002 sebelum bergerak turun dari posisi tersebut.
Kondisi tersebut membuat pasar tetap mencermati prospek inflasi serta kemungkinan perubahan kebijakan moneter AS. Tingginya yield Treasury juga dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan pada saat bersamaan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober mulai berkurang setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan.
Data terbaru menunjukkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3 persen secara bulanan pada Agustus. Secara tahunan, PCE meningkat 3,4 persen, sementara inflasi inti PCE tumbuh 3,0 persen. Data tersebut berada di bawah perkiraan sebelumnya dan mengurangi urgensi bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.
Pasar kemudian menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober. Reuters melaporkan, pada Rabu (30/9), kontrak berjangka suku bunga AS mencerminkan peluang sekitar satu banding tiga untuk kenaikan suku bunga pada Oktober. Meski demikian, pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Di sisi lain, kuatnya konsumsi masyarakat AS dan pertumbuhan ekonomi yang tetap bertahan membuat prospek kebijakan moneter The Fed masih menjadi perhatian. Reuters mencatat belanja konsumen AS meningkat 0,9 persen pada Agustus, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal II direvisi naik menjadi 2,2 persen secara tahunan.
Rupiah Masih Menghadapi Tekanan Eksternal
Bagi Indonesia, perkembangan dolar AS dan yield Treasury menjadi faktor eksternal yang penting untuk dicermati karena dapat memengaruhi arus modal serta pergerakan rupiah di pasar keuangan domestik.
Tekanan terhadap rupiah sebelumnya juga terlihat ketika mata uang Indonesia menembus level Rp18.000 per dolar AS pada 29 September, di tengah kenaikan yield Treasury AS dan meningkatnya harga minyak.
Dengan demikian, arah rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, pergerakan yield Treasury, data ekonomi Amerika Serikat, serta ekspektasi pasar terhadap keputusan Federal Reserve.















Komentar