Produksi Padi Mulai Tertekan, Amran Perkuat Pompanisasi Hadapi El Nino

JurnalPatroliNews | Jakarta — Pemerintah memperkuat pertahanan pangan nasional menghadapi ancaman El Niño yang berpotensi memperpanjang kekeringan hingga awal 2027. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memilih memperkuat pengelolaan air dan memperluas penggunaan pompa di wilayah pertanian yang mengalami keterbatasan pasokan air.

Amran menegaskan pemerintah tidak ingin petani menghadapi tekanan iklim sendirian. Pompa dipasang untuk memastikan lahan tetap mendapatkan pasokan air sehingga kegiatan produksi dapat dipertahankan.

“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri,” ujar Amran.

Langkah tersebut menjadi penting setelah BMKG memprediksi El Niño berada pada level sangat kuat dan berpotensi bertahan hingga awal 2027. Kondisi itu meningkatkan risiko kekeringan dan keterlambatan musim hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Produksi Masih Tumbuh, tetapi Tekanan Mulai Terlihat

Data BPS menunjukkan produksi padi nasional Januari–Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG) atau tumbuh 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, luas panen mencapai 8,32 juta hektare, naik 0,11 persen. Produksi beras untuk konsumsi masyarakat juga mencapai 25,29 juta ton, meningkat 0,07 persen.

Namun, tren bulanan mulai memperlihatkan tekanan. BPS mencatat produksi padi pada Agustus 2026 sebesar 5,46 juta ton GKG, turun 2,94 persen dibandingkan Agustus 2025. Produksi beras pada bulan yang sama juga turun 2,90 persen.

Bahkan, BPS memperkirakan potensi produksi padi September–November 2026 mencapai 12,24 juta ton GKG, turun sekitar 11,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Air Menjadi Kunci

Situasi tersebut membuat pengelolaan air menjadi salah satu kunci mempertahankan produktivitas lahan.

Pemerintah mengandalkan pompanisasi untuk mengalirkan air ke areal pertanian yang tidak lagi memperoleh pasokan memadai. Strategi ini diarahkan agar tanaman tetap tumbuh dan siklus tanam tidak terganggu akibat kekeringan.

Bagi sektor pangan, persoalannya bukan hanya menjaga produksi hari ini, tetapi memastikan pasokan beras tetap tersedia ketika tekanan iklim semakin besar.

Pemerintah Tak Ingin Petani Berjalan Sendiri

Amran menekankan dukungan pemerintah harus hadir langsung di lapangan, mulai dari penyediaan sarana produksi hingga akses air.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan karena dampak El Niño tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan, tetapi juga berpotensi menggeser jadwal tanam dan panen.

BMKG memperkirakan 61,08 persen wilayah Zona Musim mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dari kondisi normal.

Pertaruhan Produksi Hingga Akhir Tahun

Dengan capaian produksi Januari–Agustus yang masih tumbuh, pemerintah memiliki modal untuk menjaga ketahanan pangan. Namun, tekanan pada Agustus dan potensi penurunan produksi pada September–November menunjukkan bahwa angka kumulatif tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan kewaspadaan.

Di sinilah pompanisasi menjadi bagian penting dari strategi mitigasi.

Pemerintah harus memastikan pompa benar-benar mencapai lahan yang membutuhkan, berfungsi sepanjang periode kritis, serta didukung distribusi sarana produksi dan pendampingan petani.

Pertaruhan produksi padi 2026 pada akhirnya bukan hanya berada di sawah.

Ia juga ditentukan oleh kemampuan pemerintah mengelola air ketika cuaca semakin sulit diprediksi.

Di tengah El Niño sangat kuat, menjaga setiap hektare sawah tetap produktif menjadi bagian dari upaya mempertahankan pasokan beras dan stabilitas pangan nasional.

Komentar