JurnalPatroliNews | Jakarta – Warisan legenda klasik Bali kembali menemukan relevansinya di tengah kehidupan masyarakat modern. Kali ini, kisah Calon Arang tidak sekadar dihadirkan sebagai cerita mistis tentang perempuan sakti yang dituding membawa petaka, melainkan diolah menjadi sebuah gugatan terhadap stigma sosial, ketidakadilan, dan praktik kekuasaan yang kerap berlindung di balik narasi kebenaran.
Pesan tersebut mengemuka dalam pagelaran tari kolosal bertajuk “Calon Arang Menggugat”, karya koreografer Drs. Ida Bagus Ketut Sudiasa, M.Sn., yang dipentaskan di Pelataran Monumen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rabu malam (28/10/2026).
Pertunjukan yang disaksikan ratusan civitas akademika UNJ itu menghadirkan perpaduan seni tari tradisional Bali, pendekatan teater kontemporer, serta permainan tata cahaya dramatis bernuansa kuning dan biru. Keseluruhan elemen artistik tersebut membangun suasana panggung yang kuat, sekaligus mempertegas pesan yang ingin disampaikan sang koreografer.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, karya ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana masyarakat membangun penilaian terhadap seseorang, terutama ketika perbedaan, kekuatan, dan keberanian berhadapan dengan dominasi kekuasaan.
Calon Arang Bukan Sekadar Sosok Antagonis
Dalam legenda Bali, Calon Arang dikenal sebagai seorang janda sakti dari Desa Girah yang kerap dikaitkan dengan ilmu leak dan berbagai malapetaka. Namun, melalui interpretasi artistiknya, Ida Bagus Ketut Sudiasa mencoba membongkar kembali sudut pandang tersebut.
Calon Arang tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai tokoh antagonis. Sosoknya justru menjadi simbol perempuan yang mengalami stigma, pengucilan, dan penyingkiran akibat konstruksi penilaian sosial.
Pesan itu diterjemahkan melalui komposisi gerak para penari. Belasan penari bertopeng putih yang duduk bersimpuh di tangga monumen menggambarkan masyarakat yang memilih diam di tengah situasi yang menekan. Sementara dua figur di bagian atas panggung merepresentasikan pertarungan antara kekuasaan dan suara nurani.
Komposisi tersebut menghadirkan gambaran simbolis tentang masyarakat yang kerap kehilangan ruang untuk menyampaikan kebenaran ketika berhadapan dengan kekuatan dominan.
Dapat Apresiasi dari Pimpinan Akademik UNJ
Pagelaran ini turut mendapat perhatian dari jajaran akademisi Universitas Negeri Jakarta. Rangkaian sambutan diawali oleh Ketua Program Studi Tari UNJ, Dr. Romi Nursyam, M.Sn., kemudian dilanjutkan Direktur LPPM UNJ, Prof. Dr. Iwan Sugiarto, M.Si.
Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang IV Kerja Sama UNJ, Dr. Andy Hadiyanto, M.A.
Dalam sambutannya, Romi Nursyam menilai pertunjukan tersebut memperlihatkan bagaimana seorang seniman mampu membaca fenomena sosial di sekitarnya dan menerjemahkannya menjadi karya artistik yang memiliki pesan mendalam.
“Pertunjukan Calon Arang malam ini adalah bukti nyata kepedulian seorang seniman tari terhadap fenomena peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar. Ini adalah bukti dari kepekaan rasa dan kepekaan estetis dari seorang koreografer,” ungkap Romi.
Ia juga memberikan perhatian terhadap proses kreatif yang harus dilalui dalam menghasilkan sebuah pertunjukan kolosal. Menurutnya, karya seni semacam ini membutuhkan proses panjang, tenaga, pemikiran, serta dukungan pembiayaan yang tidak sedikit.
Karena itu, ia berharap LPPM UNJ ke depan dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap dukungan pendanaan riset dan pengembangan karya seni, sehingga kreativitas para seniman di lingkungan perguruan tinggi memperoleh ruang yang lebih luas.
Ida Bagus Ketut Sudiasa Memilih Gerakan sebagai Bahasa Kritik
Sementara itu, sang koreografer, Ida Bagus Ketut Sudiasa, yang hadir mengenakan busana adat Bali bernuansa hitam dan kuning, memilih tidak banyak menguraikan konsep pertunjukannya melalui penjelasan panjang.
Baginya, pesan sebuah karya seni seharusnya dapat disampaikan melalui ekspresi dan bahasa tubuh para penari.
“Saya tidak perlu banyak berbicara karena ekspresi saya akan saya munculkan dalam gerakan,” ujarnya di hadapan para penonton.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Negeri Jakarta beserta seluruh jajaran yang telah memberikan fasilitas dan dukungan sehingga pertunjukan tersebut dapat terselenggara.
“Yang paling pertama saya ucapkan terima kasih kepada Universitas Negeri Jakarta dan jajaran yang telah memberikan fasilitas, tempat dan lain sebagainya sehingga pertunjukan malam hari ini yang mengambil judul Calon Arang Menggugat bisa kita saksikan bersama-sama,” tuturnya.
Ida Bagus mengakui bahwa proses penciptaan karya seni merupakan perjalanan yang terus berkembang. Baginya, sebuah karya tidak pernah benar-benar berhenti pada satu bentuk, karena gagasan dan pengalaman baru selalu membuka kemungkinan perubahan.
“Tentu karya ini jauh dari sempurna. Karena setiap proses karya itu akan selalu mengalami perubahan-perubahan. Itu disebabkan oleh ide yang selalu muncul ketika kita menemukan sesuatu ingin berubah lagi. Itu yang saya alami selama proses,” jelasnya.
Seni Menjadi Ruang Menggugat Ketidakadilan
Pementasan “Calon Arang Menggugat” memperlihatkan bahwa seni tradisi memiliki kemampuan untuk melampaui batas hiburan dan estetika. Legenda yang diwariskan secara turun-temurun dapat menjadi medium untuk membaca persoalan sosial yang terus berkembang.
Melalui karya ini, Ida Bagus Ketut Sudiasa seolah mengajak penonton untuk tidak terburu-buru menghakimi seseorang hanya berdasarkan label yang dilekatkan kepadanya. Sebab, di balik setiap stigma, bisa saja terdapat persoalan ketidakadilan yang selama ini tidak pernah mendapatkan ruang untuk didengar.
Pertunjukan di Pelataran Monumen UNJ tersebut akhirnya meninggalkan sebuah pertanyaan reflektif yang lebih luas: ketika kekuasaan mengatasnamakan kebaikan bersama, sementara suara yang berbeda justru disingkirkan, siapa sebenarnya yang harus mempertanggungjawabkan ketidakadilan itu?
Di situlah makna “Calon Arang Menggugat” menemukan kekuatannya. Bukan hanya menggugat melalui gerakan tari, tetapi juga mengajak masyarakat mempertanyakan kembali batas antara kebenaran, kekuasaan, dan stigma yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.
Seni tidak selalu harus berteriak untuk menyampaikan perlawanan. Terkadang, sebuah gerakan justru mampu mengungkap kebenaran yang terlalu lama dibungkam.















Komentar