Dharma Jaya, Penopang Pangan Jakarta yang Dituntut Lebih Merata

JurnalPatroliNews – Jakarta – Perumda Dharma Jaya, salah satu BUMD pangan milik Pemprov DKI Jakarta, terus menjadi sorotan publik karena perannya dalam menjaga pasokan daging di ibu kota. Meski sudah banyak menorehkan prestasi, masyarakat berharap perusahaan ini mampu bekerja lebih optimal, terutama soal pemerataan distribusi.

Ketua Dewan Pembina Jaya Center Foundation sekaligus warga Jakarta, Budi Mulyawan, menilai Dharma Jaya merupakan ujung tombak ketahanan pangan di ibu kota.
“Perannya sangat vital, khususnya untuk distribusi daging sapi dan ayam. Tapi distribusinya harus bisa dirasakan semua warga, termasuk di wilayah yang sulit dijangkau. Jangan ada kesan sebagian warga terpinggirkan,” ujar Budi.

Sebagai BUMD, Dharma Jaya memikul mandat strategis: memastikan ketersediaan daging sapi, ayam, dan produk olahan; menjaga stabilitas harga; menyediakan rumah potong hewan yang higienis; hingga menjalankan program pangan bersubsidi untuk keluarga pemegang KJP.

Namun, perjalanan Dharma Jaya tak sepenuhnya mulus. Keterlambatan distribusi saat momen Lebaran, keluhan soal stok daging di pasar tradisional, hingga isu transparansi menjadi catatan publik yang harus segera dijawab manajemen. Masalah logistik kerap muncul, terutama menjelang Idul Adha, ketika permintaan melonjak tajam.

“Distribusi adalah pekerjaan rumah terbesar. Kadang harga di pasar tidak sesuai dengan yang diumumkan pemerintah karena rantai distribusinya belum efisien,” tambah Budi.

Di sisi lain, fasilitas rumah potong hewan Dharma Jaya di Jakarta Timur dinilai butuh modernisasi. Sistem pendinginan, rantai dingin (cold chain), hingga pengelolaan limbah masih menjadi tantangan agar sesuai standar internasional.

Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Raditya Endra Budiman, Dharma Jaya mulai berbenah. Inovasi digitalisasi layanan, kerja sama dengan UMKM, hingga perluasan pasar membuat Raditya diganjar penghargaan Top CEO BUMD 2025. Meski begitu, publik tetap menuntut konsistensi dalam menjaga stabilitas pangan.

Tak hanya itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga memberikan perhatian serius. Sebagai pembina BUMD, ia mendorong modernisasi menyeluruh, mulai dari RPH, sistem distribusi, hingga layanan digital.
“Jakarta kota megapolitan, kebutuhannya tak bisa diatasi dengan pola lama. Dharma Jaya harus berani berubah,” tegas Pramono.

Program pangan bersubsidi juga diminta diperluas agar lebih tepat sasaran bagi kelompok rentan. Menurut Pramono, subsidi ini harus dikelola transparan agar manfaatnya benar-benar sampai ke warga yang membutuhkan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya memperkuat rantai pasok lokal dengan melibatkan peternak. Upaya ini dinilai dapat menekan ketergantungan impor sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tahun 2025, Dharma Jaya mencatat sederet prestasi, mulai dari penghargaan Top BUMD Awards hingga Top Pembina BUMD untuk Pramono. Namun, bagi warga, penghargaan bukan ukuran utama.

“Yang paling dirasakan masyarakat adalah apakah harga daging tetap stabil dan distribusinya lancar. Itu barometer sesungguhnya,” kata Budi.

Meski berbagai inovasi sudah dimulai, tantangan distribusi, modernisasi fasilitas, hingga stabilitas harga masih menjadi PR besar. Budi menutup dengan harapan, Dharma Jaya bisa menjawab kebutuhan warga Jakarta secara lebih merata.
“Kami ingin Dharma Jaya benar-benar hadir untuk warga, bukan sekadar meraih penghargaan,” ujarnya.