Ini Alasan TPNPB Tembak Pesawat Misi Gereja Asing

  • Whatsapp
Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom

Jurnalpatrolinews – Jayapura : Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB mengungkap alasan khusus menembak pesawat Mission Aviation Fellowship  (MAF), milik layanan misionaris gereja asing  di Papua beberapa waktu lalu di Intan Jaya, Papua.

TPNPB menuding misionaris Kristen tidak datang murni sebagai pewarta Injil dan kemanusiaan. Melainkan agen rahasia yang terlibat dalam proses pembunuhan orang Papua dan mencuri kekayaan alam Papua.

Bacaan Lainnya

Pernyataan itu disampaikan Sebby Sambom Juru Bicara TPNPB, Selasa malam (13/01/2020) , menjawab pertanyaan jurnalis, apakah TPNPB menembak hanya karena peswat itu angkut pasukan TNI-POLRI?

“Misionaris itu semuanya agen kapitalis asing, yang datang sebagai mata-mata untuk hancurkan kekuatan alam yang dimiliki orang asli Papua dan akhirnya Indonesia dan Amerika leluasa mencuri kekayaan alam kami,”tuding Sebby Sambom.

Kata dia, sudah begitu, pesawat milik misionaris itu tidak patuhi peringatan dari TPNPB. Mereka masih angkut pasukan TNI-Polri di wilayah lain, bukan tempat kejadian penembakan pesawat.  Dia mengklaim pihaknya telah mengamatinya, sebelum melakukan penembakan.

“Kami tidak akan kompromi, pesawat itu selalu angkut Pasukan TNI/Polri dan kami sudah ketahuinya. Artinya di tempat lain, di waktu yang berbeda pesawat mereka sering angkut pasukan militer Indonesia,”katanya.

Lanjut Sambom, kalau missionaris itu punya niat baik, mengapa mereka masih angkut militer. Masih angkut barang milik mereka.

Lebih dari itu,dia mempertanyakan mengapa mereka tidak pernah laporkan kekerasan Indonesia kepada negara mereka? Mereka bisa menulis surat terbuka terhadap pemerintah mereka atau pemerintahan Indonesia untuk menghentikan kekerasan di Papua.

“Kalau bicara kemanusiaan, mereka harus bertanggungjawab. Mereka harus mendesak negara mereka, supaya ada perhatian tentang pelanggaran HAM dan hak politik bangsa Papua untuk Self Determination (memutuskan nasib sendiri),”tegasnya.

Menurutnya faktanya tidak ada. Misionaris lebih memberi kesan menjadi pembuka jalan bagi militer Indonesia . Karena misionaris yang pertama buka jalan dan lapangan terbang masuk ke wilayah orang asli Papua.

“Kalau faktanya itu, mereka diam, tidak bicara pelanggaran HAM di Papua, umat Tuhan dibunuh, apa yang dibanggakan kepada misionaris Kristen?,”tegasnya.

Kata dia, pihaknya yang berjuang untuk Papua merdeka tidak akan kompromi lagi dengan misionaris Kristen. Perjuangan pihaknya juga untuk memgusir misionaris yang menjajah dan membisu atas pembunuhan umat Tuhan di Papua.

“Kami juga siap usir mereka karena misionaris ini tidak menguntungkan bagi kehidupan bangsa Papua. Ini kontroversi, tapi kami punya hak untuk sampaikan isi hati kami,”tegasnya.

Kata dia, penolakan misionaris Kristen juga dengan paham dan dogma gereja Barat yang merusak tatanan kehidupan orang asli Papua. Karena, orang asli Papua sudah tidak butuh misionaris untuk mewartakan Injil Kristus.

“Karena Gereja itu sudah menjadi lokal, jadi yang kami maksud Gereja asing, dan paham asing, serta dogmatika asing itu yang harus buang,”tegasnya.

Kata dia, pihaknya berjuang agar gereja harus tumbuh dan berkembang di tengah orang pribumi dengan paham, harapannya sendiri. Gereja yang merasakan dan mendukung penderitaan dan harapan orang asli Papua.

Warpo Wetipo, ketua I KNPB menambahkan penembakan ini sebenarnya teguran keras bagi misionaris. Teguran tidak menjadi bagian dari pelaku kekerasan terhadap orang asli Papua.

“Kita harap ini menjadi pelajaran, dan para misionaris perlu evaluasi layanan mereka. Apakah mereka benar hadir dengan tulus untuk orang asli Papua?”tanya Warpo.

Kata dia, evaluasi internal para misionaris itu jauh lebih penting daripada mencari kesalahan orang asli Papua. Karena, mencari kesalahan orang asli Papua itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Dikutip dari laman resminya, MAF telah melakukan pelayanan di wilayah terisolir Papua sejak 1952. Kegiatan mereka antara lainj meliputi dukungan pada layanan gereja, evakuasi medis, membuat akses melalui proyek pengembangan komunitas, pendidikan dan penanganan krisis. MAF memiliki 11 pesawat yang tersebar di lima basis di Papua.

Selain di Papua, MAF juga melakukan pelayanan di pulau Kalimantan. Organisasi masyarakat ini juga memiliki cabang di berbagai negara, antara lain di Australia, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Hongkong, India, Malaysia, Afrika Selatan. MAF bernaung di MAF International.   (jubi)

Pos terkait