JurnalPatroliNews, GARUT – Di hadapan 440 peserta didik baru SMPN 1 Bayongbong, sebuah pertanyaan sederhana namun menggugah mengawali materi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), bagaimana jika Sungai Cimanuk bisa berbicara?
Jawabannya ternyata bukan tentang air yang mengalir atau derasnya arus sungai, melainkan sebuah harapan. Sungai hanya ingin dirawat, dijaga, dan tidak lagi diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah.
Pesan reflektif itu disampaikan pegiat lingkungan dari Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Kadapi, dalam kegiatan MPLS yang mengusung pendidikan karakter sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
“Sungai bisa menjadi sumber kehidupan, tetapi juga bisa menjadi sumber bencana jika tidak dijaga. Air adalah kebutuhan utama setelah udara. Ketika sungainya bersih dan terawat, saat musim kemarau tidak kekeringan, saat musim hujan tidak terjadi banjir,” ujarnya.
Lokasi SMPN 1 Bayongbong yang berada tepat di tepi Sungai Cimanuk menjadi alasan mengapa pendidikan lingkungan dimasukkan dalam materi MPLS. Para siswa tidak hanya dikenalkan dengan lingkungan sekolah, tetapi juga diajak memahami persoalan nyata yang ada di sekitar mereka.
Dalam kesempatan tersebut, Mulyono juga mengajak para siswa membayangkan dampak besar dari aksi kecil yang dilakukan bersama. Jika setiap siswa di SMPN 1 Bayongbong menanam satu pohon di bantaran Sungai Cimanuk, maka sedikitnya akan tumbuh sekitar 1.200 pohon baru melalui keterlibatan keluarga mereka.
“Bayangkan kalau satu anak saja mengajak keluarganya untuk tidak membuang sampah ke sungai dan menanam satu pohon di pinggir sungai. Dari SMPN 1 Bayongbong saja sudah ada 1.200 pohon yang bisa ditanam. Dampaknya tentu luar biasa,” ujar Mulyono Herdi di Halaman SMPN 1 Bayongbong, Kabupaten Garut, Rabu (15/7/2026).
Baca juga: Papandayan Chicken Run 5K 2026 Hadirkan Chip Timing, 750 Pelari Siap Berburu Rekor Terbaik di Garut
Gerakan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan program pemerintah yang mendorong penanaman dua miliar pohon sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Ia juga mengingatkan bahwa panjang Sungai Cimanuk sejak dahulu tidak pernah berubah. Namun, kondisi sungai kini semakin menyempit dan dangkal akibat ulah manusia, mulai dari pembuangan sampah hingga kerusakan bantaran sungai.
Karena itu, keberadaan Sungai Cimanuk yang mengalir tepat di depan SMPN 1 Bayongbong diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan pelajar peduli sungai.
“Minimal mulai dari sekolah ini, Sungai Cimanuk bisa dijaga bersama. Jangan sampai sungai berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Sungai harus tetap menjadi bagian dari peradaban yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia,” pungkasnya.
Dengan mengangkat isu lingkungan sejak hari pertama memasuki jenjang SMP, sekolah berharap para peserta didik tidak hanya mengenal ruang kelas, tetapi juga memahami bahwa masa depan sungai berada di tangan generasi yang hari ini mulai belajar di bangku sekolah.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Bayongbong, Herdi Mulyana RH, mengatakan pembelajaran tidak boleh terlepas dari kondisi sosial dan lingkungan sekitar. Karena itu, sekolah menghadirkan narasumber dari berbagai instansi pemerintah dan pegiat sosial yang kompeten agar peserta didik memiliki kepedulian sejak dini.
“Pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial. Karena itu kami menghadirkan materi tentang kebencanaan, pengelolaan lingkungan, dan berbagai persoalan sosial agar anak-anak memiliki kepedulian sejak dini,” katanya.
Menurut Herdi, kolaborasi dengan berbagai pihak diharapkan terus berlanjut untuk membangun budaya positif di lingkungan sekolah sekaligus membentuk karakter peserta didik yang peduli terhadap masyarakat dan alam.















Komentar