JurnalPatroliNews – Jakarta – Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop), Ferry Juliantono, bersama Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Nanik S. Deyang, dan Prof. Sofyan Sjaf dari IPB University, sedang mematangkan rencana kerja sama. Kolaborasi ini bertujuan untuk memanfaatkan Data Desa Presisi (DDP), sebuah aplikasi inovatif, sebagai dasar perencanaan pembangunan dan upaya pengentasan kemiskinan di seluruh Indonesia.
Menurut Wamenkop, program pengentasan kemiskinan merupakan prioritas utama pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan pentingnya data yang akurat agar program-program tersebut, seperti Koperasi Desa Merah Putih, bisa tepat sasaran. Ia memuji DDP, yang digagas oleh Prof. Sofyan Sjaf, sebagai solusi yang efektif untuk mendapatkan data desa yang utuh dan akurat, mulai dari potensi, demografi, hingga profil masyarakat.
Aplikasi DDP, yang menggabungkan teknologi terintegrasi dan kecerdasan buatan (AI), telah diuji coba di berbagai desa, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Data yang dihasilkan dari aplikasi ini dinilai sangat layak untuk menjadi pertimbangan BP Taskin dalam merumuskan kebijakan.
Nanik S. Deyang dari BP Taskin menyambut baik inisiatif ini. Ia berharap kolaborasi untuk memvalidasi data penduduk miskin di Indonesia dapat melibatkan berbagai pihak, terutama akademisi.
Prof. Sofyan Sjaf menjelaskan bahwa DDP dirancang untuk membangun basis data yang akurat dan partisipatif dari tingkat bawah (bottom-up). Dengan memanfaatkan teknologi seperti drone dan AI, serta melibatkan enumerator dari kalangan pemuda desa, DDP mengumpulkan data yang tidak hanya mencakup objek fisik tetapi juga dinamika sosial. Data ini hanya bisa diisi jika enumerator benar-benar berada di lokasi, memastikan akurasi data.
Hingga saat ini, DDP telah diterapkan di 16 provinsi, 38 kabupaten/kota, dan 1.239 desa. Semua prosesnya bersifat ilmiah, partisipatif, dan diawasi oleh akademisi untuk menjamin keandalan data.














