JurnalPatroliNews – Jakarta – Nilai Bitcoin kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan awal pekan. Berdasarkan data CoinMarketCap, Senin siang, 2 Februari 2026, aset kripto terbesar dunia itu turun 4,41 persen dan diperdagangkan di level sekitar 75.289 dolar AS.
Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya aksi jual di berbagai instrumen keuangan global. Dari sisi makro, pasar dibayangi kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik yang berkembang sejak akhir pekan, mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Sejumlah sentimen negatif turut memperburuk suasana pasar, mulai dari penutupan sebagian aktivitas pemerintahan Amerika Serikat, memanasnya kembali wacana perang dagang, hingga kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang. Di ranah geopolitik, eskalasi ketegangan di Iran serta dinamika di Laut Cina Selatan ikut memperbesar kekhawatiran pelaku pasar.
Tekanan juga datang dari dalam ekosistem kripto itu sendiri. Gelombang pelepasan posisi berleverage memicu likuidasi besar-besaran, dengan total aset kripto yang terlikuidasi mencapai lebih dari 5,42 miliar dolar AS sejak Kamis lalu. Sementara itu, minat terbuka (open interest) Bitcoin merosot ke titik terendah dalam sembilan bulan terakhir, berada di kisaran 24,17 miliar dolar AS.
Kondisi tersebut turut menciptakan celah harga (CME gap) pada kontrak berjangka Bitcoin di bursa CME sekitar 8 persen, yakni di rentang 77.000 hingga 84.000 dolar AS. Selisih ini tercatat sebagai salah satu gap terbesar yang pernah terjadi sejak 2017.
Tekanan psikologis pasar kian terasa setelah indikator sentimen menunjukkan level kekhawatiran yang sangat tinggi. Pada 2 Februari, Indeks Ketakutan dan Keserakahan versi CoinMarketCap berada di angka 15, mengindikasikan fase “ketakutan ekstrem”. Di saat bersamaan, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mengalami arus dana keluar yang masif.
Dalam sepekan terakhir, tercatat dua arus keluar mingguan terbesar sepanjang sejarah ETF Bitcoin spot. Bahkan, pada Kamis lalu terjadi penarikan dana harian hingga 817 juta dolar AS, yang mayoritas berasal dari ETF IBIT milik BlackRock dan FBTC milik Fidelity.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati apakah Bitcoin mampu bertahan di area krusial 75.000–76.000 dolar AS, yang berdekatan dengan harga rata-rata kepemilikan MicroStrategy sekaligus level terendah terbaru. Selain itu, perhatian juga tertuju pada potensi pemulihan arus dana ETF Bitcoin spot, apakah dapat kembali mencatat aliran masuk dalam beberapa hari mendatang.













