JurnalPatroliNews – Jakarta – Nilai saham Nokia mengalami penurunan tajam hingga sekitar 9 persen, meskipun bursa saham Amerika Serikat bergerak positif. Tekanan terhadap saham perusahaan teknologi asal Finlandia itu muncul di tengah langkah transformasi besar yang sedang dijalankan, termasuk penguatan strategi di bidang kecerdasan buatan (AI).
Pelemahan harga saham tersebut terjadi bersamaan dengan pengumuman perubahan di jajaran dewan. Nokia mengonfirmasi bahwa Ketua Dewan Komisaris Sari Baldauf akan mengakhiri masa jabatannya. Perusahaan pun mengajukan nama Timo Ihamuotila untuk menggantikan posisi tersebut.
Pengumuman pergantian pimpinan itu disampaikan setelah Nokia merilis laporan kinerja kuartalan yang secara umum sesuai dengan proyeksi analis, dengan kontribusi positif dari lini bisnis yang terkait pengembangan AI.
Mengutip laporan Reuters pada Jumat, 30 Januari 2026, Sari Baldauf merupakan figur senior di tubuh Nokia. Ia kembali bergabung dengan perusahaan pada 2018 dan dipercaya memimpin dewan sejak 2020. Sebelumnya, Baldauf pernah berkarier di Nokia pada periode 1994 hingga 2005, saat perusahaan tersebut masih mendominasi pasar ponsel global.
Sementara calon penggantinya, Timo Ihamuotila, bukan sosok baru bagi Nokia. Ia pernah menduduki jabatan direktur keuangan pada 2009–2016 dan saat ini masih berkiprah di grup industri Swiss ABB hingga penghujung 2026.
Dari sisi kinerja keuangan, laba operasional sebanding Nokia pada kuartal IV 2025 tercatat turun sekitar 3 persen menjadi 1,05 miliar euro, sejalan dengan perkiraan pasar. Meski hasil tersebut tidak meleset dari ekspektasi, sentimen investor tetap negatif. Saham Nokia bahkan sempat menjadi salah satu yang paling tertekan di indeks Stoxx 600 Eropa.
Nokia kini tengah menjalani fase restrukturisasi terbesar sejak melepas bisnis ponsel lebih dari satu dekade lalu. Perusahaan mengandalkan ekspansi di sektor AI dan pusat data untuk mengompensasi penurunan belanja serta hilangnya beberapa kontrak utama di segmen jaringan 5G.
Pada tahun sebelumnya, Nokia menunjuk Justin Hotard, mantan eksekutif Intel, sebagai CEO guna mempercepat perubahan strategi dan arah bisnis perusahaan.
Tekanan terhadap kinerja perusahaan masih dipengaruhi oleh kebijakan tarif impor Amerika Serikat serta pelemahan nilai tukar dolar AS yang menekan margin keuntungan. Kondisi ini memicu spekulasi pasar terkait kemungkinan langkah efisiensi lanjutan, meskipun manajemen menegaskan tetap berkomitmen pada investasi jangka panjang di bidang AI.
Pada periode kuartal IV, penjualan bersih Nokia mencapai 6,12 miliar euro, sejalan dengan estimasi analis. Divisi Optical Networks mencatatkan pertumbuhan paling menonjol dengan lonjakan sekitar 17 persen, ditopang oleh meningkatnya permintaan dari sektor kecerdasan buatan dan komputasi awan.














