JurnalPatroliNews – KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives terkoreksi lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa (12/5/2026), seiring tekanan dari pelemahan pasar minyak nabati global dan meningkatnya stok domestik Malaysia.
Setelah sempat menguat tipis pada sesi sebelumnya, harga kontrak CPO tercatat turun 70 ringgit menjadi 4.446 ringgit per metrik ton.
Penurunan ini dipicu oleh aksi jual pada kontrak palm olein di Dalian Commodity Exchange (DCE) yang merosot 1,35 persen, disertai pelemahan harga minyak kedelai di bursa yang sama.
Sebagai komoditas yang bersaing dalam pasar minyak nabati global, pergerakan harga sawit umumnya mengikuti tren harga minyak pesaingnya, terutama minyak kedelai dan palm olein.
Pasar Berjangka Dalian merupakan salah satu bursa komoditas utama di China yang memiliki pengaruh besar terhadap harga global berbagai komoditas, termasuk CPO, PVC, dan produk plastik lainnya.
Tekanan pasar juga datang dari data internal Malaysia yang menunjukkan kenaikan stok CPO sepanjang April 2026. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan produksi dan impor di tengah perlambatan ekspor.
Ketidakpastian semakin meningkat akibat perbedaan data ekspor awal Mei. Lembaga survei kargo Intertek Testing Services mencatat ekspor sawit naik 8,5 persen, sementara AmSpec Agri Malaysia justru melaporkan penurunan sebesar 10,8 persen.
Perbedaan angka tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi perdagangan.
Dari sisi teknikal, sejumlah analis memperkirakan harga CPO masih berpotensi melemah lebih lanjut menuju kisaran 4.410 hingga 4.452 ringgit per metrik ton.
Meski demikian, beberapa faktor dinilai masih mampu menahan tekanan penurunan yang lebih dalam.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong harga minyak mentah dunia naik sekitar 1 persen, sehingga meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Selain itu, pelemahan nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat membuat harga sawit Malaysia menjadi lebih kompetitif bagi pembeli internasional, yang sedikit menopang aktivitas perdagangan di pasar global.
Pelaku industri kini menanti perkembangan ekspor dan arah kebijakan energi global untuk melihat apakah harga sawit mampu kembali menguat dalam beberapa pekan ke depan.














