Bitcoin Melemah Hampir 3 Persen, Sentimen Konflik Iran Tekan Pasar Kripto

JurnalPatroliNews – Jakarta – Harga Bitcoin mengalami penurunan hampir 3 persen dalam 24 jam terakhir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Jumat (6/3/2026), aset kripto terbesar di dunia itu diperdagangkan di kisaran 70.324 dolar AS atau turun sekitar 2,95 persen.

Tekanan terhadap pasar kripto terutama dipicu oleh meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak dunia naik dan memicu kekhawatiran investor. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar memilih mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk mata uang kripto.

Selain sentimen geopolitik, pelemahan harga Bitcoin juga dipengaruhi faktor teknikal. Aset digital itu gagal menembus level resistensi penting di sekitar 74.000 dolar AS, yang kemudian memicu aksi jual di pasar.

Pasar kripto juga diguncang oleh gelombang likuidasi pada perdagangan derivatif. Dalam 24 jam terakhir, nilai likuidasi posisi Bitcoin tercatat mencapai sekitar 95,9 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, lebih dari 67 juta dolar AS berasal dari posisi beli (long) yang terpaksa ditutup akibat penurunan harga.

Pada saat yang sama, total open interest di pasar derivatif kripto tercatat turun sekitar 9,4 persen. Penurunan ini menunjukkan banyak trader mulai mengurangi penggunaan leverage di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.

Untuk jangka pendek, pelaku pasar kini memantau level support krusial di kisaran 70.000 dolar AS. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, harga berpotensi kembali menguji area 72.500 dolar AS. Namun jika level itu ditembus, harga Bitcoin berisiko melanjutkan penurunan hingga mendekati 68.000 dolar AS.

Di sisi lain, investor juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Non-Farm Payrolls Februari. Data tersebut dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral dan berpotensi memberikan sentimen baru bagi pergerakan pasar kripto global.