JurnalPatroliNews – Jakarta – Mantan hakim Mahkamah Konstitusi sekaligus Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia, Jimly Asshiddiqie, menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi berlangsung lama.
Menurutnya, konflik tersebut tidak hanya dipicu kepentingan geopolitik, tetapi juga berisiko diperkeruh oleh politisasi isu sektarian antara kelompok Sunni dan Syiah di kawasan Timur Tengah.
Jimly menilai narasi perbedaan mazhab berpotensi dimanfaatkan sebagai alat politik yang dapat memperdalam perpecahan di dunia Arab maupun dunia Islam secara lebih luas.
“Perang AS-Israel vs Iran akan berlangsung lama dengan peralat isu Sunni vs Syiah memecah belah dunia Arab,” ujar Jimly melalui akun X miliknya, Jumat (6/3/2026).
Dalam situasi tersebut, Jimly berpandangan negara-negara besar Muslim di luar kawasan Arab perlu mengambil peran lebih aktif dalam menjaga stabilitas dan kerukunan di dunia Islam. Ia menyebut Indonesia dapat berperan strategis bersama negara Muslim lain yang memiliki pengaruh internasional, seperti Pakistan dan Turki, untuk mendorong upaya mediasi.
Menurutnya, kolaborasi negara-negara tersebut dapat membantu meredakan ketegangan di antara negara-negara Muslim yang terdampak konflik kawasan.
“Sangat baik jika negara-negara besar Muslim non-Arab dapat bersama-sama aktif untuk kerukunan dunia Islam. Maka tepat jika ide mediasi oleh RI dilakukan bersama Pakistan dan Turki untuk mediasi Iran-Arab,” jelasnya.
Namun demikian, Jimly menekankan bahwa fokus mediasi sebaiknya diarahkan terlebih dahulu pada upaya meredakan ketegangan internal di dunia Islam, bukan langsung pada konflik antara Iran dan Israel.
Pendekatan tersebut dinilai lebih realistis mengingat eskalasi konflik yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir, termasuk setelah terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
“Mediasi sebaiknya dilakukan untuk internal dunia Islam, bukan antara Iran vs Israel yang baru saja membunuh Ayatullah Khamenei,” ujarnya.














