GoTo Dorong Ekonomi Rp480 Triliun, Buka Jutaan Lapangan Kerja dan Tekan Kemiskinan

JurnalPatroliNews – Jakarta – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tercatat menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi digital Indonesia. Laporan terbaru dari Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menyebut ekosistem GoTo berperan signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan jutaan lapangan kerja, serta membantu menurunkan tingkat kemiskinan di tanah air.

Riset bertajuk Unlocking Value of Indonesia’s Digital Economy to Foster 8 Percent Sustainable Growth itu menggunakan pendekatan OECD-ADB dan menjadikan GoTo sebagai studi kasus utama, mencakup analisis pada 17 sektor yang telah terdigitalisasi.

Sejak 2020, nilai ekosistem digital GoTo meningkat rata-rata 19 persen per tahun dari Rp297,2 triliun menjadi Rp605,6 triliun pada 2024.

Kontribusinya terhadap perekonomian nasional tahun ini diperkirakan mencapai 2,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau sekitar Rp480,72 triliun. Angka tersebut terbagi menjadi Rp355,3 triliun kontribusi langsung dan Rp125,4 triliun kontribusi tidak langsung.

Menurut Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, kehadiran GoTo membawa dampak sosial yang luas mulai dari pembukaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga memperluas inklusi keuangan untuk pelaku UMKM dan sektor informal.

“Digitalisasi telah mengubah struktur perekonomian nasional. Karena itu, dukungan pemerintah melalui kebijakan dan insentif yang memperkuat industri digital lokal menjadi kunci untuk pemerataan sekaligus pertumbuhan berkelanjutan,” kata Gundy dalam keterangan resminya, Selasa (12/8/2025).

Pengaruh positif GoTo tak hanya dirasakan di tingkat nasional, tetapi juga di berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Sumatera Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat. Sepanjang 2024, perusahaan ini diperkirakan menciptakan lapangan kerja bagi 2,03 juta orang—setara 1,3 persen dari total tenaga kerja Indonesia.

Selain itu, riset Prasasti mencatat GoTo ikut menurunkan tingkat kemiskinan nasional dari 9,03 persen menjadi 8,58 persen. Penurunan 0,45 poin persentase ini berarti 1,27 juta orang berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Laporan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi digital, melalui penciptaan pekerjaan dan peningkatan pendapatan rumah tangga, terbukti menjadi instrumen efektif dalam mengatasi kemiskinan di wilayah perkotaan maupun pedesaan.