Greenback Menguat Tipis di Penghujung Pekan, Namun Tekanan Masih Membayangi

JurnalPatroliNews – Jakarta – Nilai tukar Dolar Amerika Serikat di pasar keuangan New York menutup perdagangan akhir pekan dengan kenaikan terbatas pada Jumat, 12 Desember 2025 waktu setempat. Penguatan kecil ini sekaligus memutus tren pelemahan yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

Meski demikian, reli tersebut belum cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan yang lebih besar. Dolar AS masih berada dalam tekanan dan bersiap mencatat penurunan mingguan untuk kali ketiga secara beruntun. Kenaikan ini lebih banyak dipandang sebagai jeda sesaat di tengah tren melemah yang masih dominan.

Indeks Dolar (DXY), indikator yang mencerminkan kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik sekitar 0,1 persen ke posisi 98,44. Namun secara keseluruhan, pergerakan ini belum mampu memperbaiki kinerja bulanan maupun tahunan. Sepanjang Desember, Dolar telah tergerus sekitar 1,1 persen dan secara tahunan berpotensi mencatat penurunan terdalam sejak 2017.

Menurut laporan yang dikutip dari Ipot News, tekanan terhadap Dolar sebagian besar dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve tahun depan. Rencana pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS dinilai mengurangi daya tarik imbal hasil aset berdenominasi Dolar.

“Ini lebih mencerminkan kelelahan pasar di hari Jumat. Dolar turun secara mingguan dan hampir sepanjang bulan. Apakah pemangkasan suku bunga The Fed menjadi faktor? Sebagian besar, ya,” kata Bob Savage, Kepala Strategi Makro Pasar di BNY.

Di sisi lain, mata uang Euro bergerak relatif stabil di kisaran 1,1735 Dolar AS, setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Baik Euro maupun Poundsterling masih berada di jalur penguatan mingguan ketiga berturut-turut terhadap mata uang AS.

Poundsterling sendiri justru terkoreksi tipis sekitar 0,2 persen ke level 1,3375 Dolar AS. Pelemahan ini menyusul rilis data ekonomi Inggris yang menunjukkan kontraksi tak terduga dalam periode tiga bulan hingga Oktober. Kondisi tersebut mendorong spekulasi bahwa Bank of England akan memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

Sementara itu, terhadap Yen Jepang, Dolar AS mencatat kenaikan sekitar 0,2 persen. Pergerakan ini terjadi menjelang pertemuan Bank of Japan pekan depan, di mana pelaku pasar menantikan sinyal lanjutan terkait potensi kenaikan suku bunga pada 2026.