Rupiah Dibuka Melemah Usai Pengumuman Defisit APBN Rp135,7 Triliun


JurnalPatroliNews – JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah pada perdagangan Kamis (12/3/2026). Pelemahan tersebut terjadi setelah pengumuman defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp135,7 triliun pada Februari 2026.

Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, rupiah dibuka turun 14 poin ke level Rp16.899 per dolar AS.

Hingga pukul 09.30 WIB, pelemahan rupiah masih berlanjut dengan koreksi sekitar 0,07 persen ke posisi Rp16.893 per dolar AS.

Sentimen tersebut muncul setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa APBN hingga Februari 2026 mengalami defisit sebesar Rp135,7 triliun.

Meski rupiah tertekan, pasar saham domestik justru menunjukkan pergerakan positif pada awal perdagangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik 0,13 persen ke level 7.398,85.

Beberapa saat setelah pembukaan, IHSG bahkan memperpanjang penguatan hingga 0,43 persen dan bergerak di level 7.421.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 266 saham menguat, 214 saham melemah, sementara 478 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi awal tercatat mencapai Rp648 miliar dengan volume perdagangan sekitar 1,2 miliar saham.

Sejumlah indeks utama juga mencatatkan kenaikan, di antaranya LQ45 Index yang naik 0,60 persen ke level 756, Jakarta Islamic Index (JII) menguat 0,39 persen ke level 495, serta IDX30 Index yang naik 0,56 persen ke posisi 401. Sementara itu, indeks IDX MNC36 juga menguat 0,43 persen ke level 312.

Secara sektoral, mayoritas indeks berada di zona hijau, dipimpin oleh sektor energi, konsumer siklikal, keuangan, teknologi, industri, infrastruktur, transportasi, serta bahan baku.

Di sisi lain, beberapa sektor masih berada di zona merah, yakni sektor konsumer non-siklikal, properti, dan kesehatan.