JurnalPatroliNews – JAKARTA — Nilai tukar Rupiah kembali tertekan ke level Rp17.705 per Dolar AS pada perdagangan Jumat (22/5/2026), setelah sehari sebelumnya sempat menguat ke kisaran Rp17.600 per Dolar AS.
Pelemahan mata uang Garuda terjadi meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026.
Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam dua tahun terakhir setelah BI-Rate bertahan di level 4,75 persen sejak November 2025.
Selain BI-Rate, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen serta lending facility menjadi 6 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan itu ditempuh untuk memperkuat stabilisasi Rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah,” ujar Perry.
Namun demikian, tekanan terhadap Rupiah belum mereda. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan Rupiah turut dipengaruhi sentimen negatif dari rencana pembentukan badan ekspor komoditas satu pintu melalui anak usaha Danantara Indonesia, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
“Rupiah terdepresiasi terhadap Dolar AS dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan domestik. Investor mulai mengantisipasi kebijakan baru terkait proses tata kelola ekspor yang akan memusatkan transaksi ekspor untuk beberapa komoditas di bawah BUMN,” kata Josua dalam analisanya.
Menurut dia, pasar masih mencermati dampak kebijakan tersebut terhadap arus devisa dan mekanisme perdagangan komoditas nasional.
Selain faktor domestik, penguatan Dolar AS juga menjadi tekanan tambahan bagi Rupiah.
Dari Amerika Serikat, data klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 16 Mei 2026 tercatat turun menjadi 209 ribu dari sebelumnya 212 ribu. Angka itu lebih rendah dibanding ekspektasi pasar sebesar 210 ribu dan menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih kuat.
Sementara itu, data Preliminary S&P Global PMI Manufaktur AS meningkat menjadi 55,3 pada Mei 2026 dari sebelumnya 54,5. Realisasi tersebut melampaui proyeksi pasar di level 53,8 dan menandakan sektor manufaktur AS tetap solid di tengah ketidakpastian global.
“Rilis data ini menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap tangguh, sehingga mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter oleh The Fed,” ujar Josua.














