Gencatan Senjata atau Ilusi? Sweida Terus Berdarah, Dunia Bungkam

JurnalPatroliNews – Damaskus – Upaya pemerintah transisi Suriah yang kini dikuasai kelompok Islamis untuk menghentikan pertumpahan darah di wilayah Sweida menemui jalan terjal. Sabtu (19/7), suara tembakan senapan mesin dan dentuman mortir kembali menggema di kota yang mayoritas penduduknya penganut Druze, meski pengumuman gencatan senjata telah disampaikan secara resmi.

Dilansir dari Tim Kantor Berita Reuters yang berada di lokasi melaporkan suara tembakan terdengar dari pusat kota Sweida, sementara peluru mortir menghujani desa-desa sekitarnya. Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa, namun rumah sakit setempat dilaporkan kewalahan menangani korban luka.

Konflik Antar-Komunitas Meletus, Pemerintah Turun Tangan

Kekerasan dipicu bentrokan antara kelompok milisi Druze dan suku-suku Badui yang kemudian berkembang menjadi pertempuran terbuka, melibatkan pasukan keamanan pemerintah. Pemerintah menyatakan telah mengerahkan personel ke wilayah selatan dan mendesak semua pihak untuk menghentikan pertempuran.

Presiden interim Ahmed al-Sharaa, dalam pidato resminya, menyebut adanya peran mediasi dari pihak Arab dan Amerika Serikat dalam mendorong proses gencatan senjata. Namun ia juga menyalahkan Israel atas serangan udara yang ditujukan ke pasukan Suriah, termasuk ke fasilitas strategis di Damaskus.

Pemerintah Baru Dihadapkan Tantangan Berat

Konflik di Sweida menjadi ujian besar bagi pemerintahan baru di Damaskus yang terbentuk usai tergulingnya Bashar al-Assad pada Desember lalu. Pemerintahan Sharaa menghadapi tekanan besar dari kelompok-kelompok minoritas yang merasa terancam eksistensinya di tengah dominasi faksi Islamis.

Kekerasan sektarian tidak hanya terbatas di Sweida. Pada Maret lalu, militer Suriah dikaitkan dengan pembantaian komunitas Alawite dari kelompok yang sebelumnya menjadi tulang punggung rezim Assad. Sementara pada Mei, bentrokan antara pasukan pemerintah dan milisi Druze juga tercatat di wilayah selatan.

Israel Masuk Campur, AS Dorong Persatuan

Situasi kian rumit dengan keterlibatan Israel. Negara itu mengklaim sedang melindungi komunitas Druze, yang juga merupakan bagian dari minoritas di dalam negeri mereka. Dalam sepekan terakhir, serangan udara Israel menghantam wilayah selatan Suriah hingga ke jantung pertahanan di Damaskus.

Namun sikap Israel berbeda arah dengan Amerika Serikat. Washington mendukung pemerintahan Sharaa dan mendorong pendekatan inklusif terhadap seluruh warga negara. Utusan khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, bahkan mengajak seluruh faksi, Druze, Badui, Sunni, hingga minoritas lainnya, untuk membentuk identitas nasional baru.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengkritik tajam pemerintahan Sharaa, menyebutnya tidak aman bagi kelompok minoritas mana pun di Suriah. Ia menyebut nasib Kurdi, Alawite, Druze, dan Kristen semakin genting dalam enam bulan terakhir.

Krisis Kemanusiaan: Rumah Sakit Penuh, Korban Terus Bertambah

Situasi kemanusiaan memburuk. Rumah Sakit Sweida dilaporkan penuh dengan korban luka dan jenazah akibat konflik yang belum kunjung usai. Dr. Omar Obeid, direktur rumah sakit, menyebut sebagian besar korban mengalami luka serius akibat ledakan dan pecahan mortir.

“Sebagian besar luka di bagian dada dan anggota tubuh. Kami kehabisan ruang dan tenaga,” ungkapnya.

Sementara itu, seorang warga desa di pinggiran kota, Mansour Namour, melaporkan sedikitnya 22 orang terluka di sekitar tempat tinggalnya pada Sabtu sore.

Dua Hari Kesempatan, Gencatan Senjata Diuji

Meski gencatan senjata telah diumumkan, Israel menyatakan hanya memberi ruang bagi pasukan Suriah untuk memasuki wilayah Sweida selama dua hari ke depan. Artinya, waktu terus berjalan bagi Damaskus untuk membuktikan kemampuannya menjaga perdamaian dan mengendalikan kekerasan sektarian yang makin meluas.

Presiden Sharaa mengingatkan bahwa “Suriah bukan tempat untuk eksperimen pemisahan dan hasutan sektarian”. Namun, dalam bayang-bayang intervensi luar dan sejarah kelam perang saudara, janji itu akan diuji dalam waktu yang sangat singkat.