Mendagri Jelaskan Penyebab Ekonomi Papua Tengah Terperosok hingga Minus 8 Persen

JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkap faktor yang membuat perekonomian Papua Tengah mengalami kontraksi tajam hingga minus 8 persen. Tito mengatakan, ia secara rutin menyampaikan laporan perkembangan ekonomi daerah kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk terkait inflasi dan pertumbuhan ekonomi bulanan.

Dalam laporan tersebut, Tito menyoroti adanya kesenjangan antardaerah. Beberapa provinsi, seperti Maluku Utara, mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi, sementara Papua Tengah justru berada di posisi paling bawah.

“Yang tumbuh paling tinggi misalnya Maluku Utara, sedangkan yang minus itu Papua Tengah,” ujarnya dalam keterangan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 25 November 2025.

Tito menjelaskan, kontraksi dalamnya ekonomi Papua Tengah terutama dipicu gangguan yang terjadi pada sektor pertambangan. Ia merinci sejumlah hambatan yang dihadapi PT Freeport Indonesia.

Mulai dari terhambatnya ekspor Freeport, insiden kebakaran di fasilitas smelter, hingga bencana longsor yang semakin mengganggu proses produksi, semuanya berkontribusi pada penurunan tajam kinerja ekonomi wilayah tersebut.

“Rangkaian gangguan itu membuat pertumbuhan ekonomi Papua Tengah, khususnya Timika, jatuh ke minus 8 persen,” jelas Tito.

Meski demikian, Tito menambahkan bahwa secara nasional masih ada daerah dengan pertumbuhan ekonomi kuat sehingga kondisi makro tetap terjaga.

“Tetap ada wilayah lain yang tumbuh tinggi, sehingga ada balancing-nya,” tutupnya.