PSI, Gajah, dan Prabowo: Simbol Tenang, Pesan Kuat untuk Indonesia

JurnalPatroliNews – Jakarta – Dalam sebuah forum akbar PSI di Solo, Presiden Prabowo Subianto melontarkan kalimat penuh makna, “Saya paling menyayangi gajah.” Pernyataan itu bukan sekadar metafora, tapi sinyal perubahan gaya politik PSI yang sebelumnya lincah kini bertransformasi menjadi lebih mantap layaknya gajah kuat, tenang, dan tak tergesa.

Simbol gajah yang diadopsi PSI bukan sebatas desain, tetapi filosofi kekuatan yang tak perlu berisik untuk ditakuti. Prabowo sendiri terharu melihat spanduk besar PSI, mengenang ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, yang pernah memimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) era 1948 partai progresif anti-korupsi yang dibubarkan Soekarno karena terlalu kritis.

Kini, semangat itu hidup kembali. Prabowo menegaskan peran pemimpin bukan sekadar berkuasa, tapi menjaga dan melindungi, seperti ia menjaga 90 ribu hektare lahan di Aceh untuk konservasi gajah. Ia juga menyentil keras kelompok yang hanya sibuk membuat konten provokatif dan menjual narasi “Indonesia gelap” untuk kepentingan politik gelap.

Menurut Prabowo, negeri ini tak butuh pengamat yang bersembunyi di balik layar, tapi pejuang sejati yang siap difitnah tapi tetap berdiri membela rakyat. Ia menegaskan bahwa narasi-narasi pesimistis soal Indonesia adalah hasil rekayasa untuk merawat sistem korup.

Melalui simbol gajah dan pesan Prabowo, PSI kini diharapkan menjadi kekuatan politik yang tangguh dan berprinsip. Sebuah harapan bahwa estafet sejarah bangsa terus berlanjut, bukan lewat gaduh, tapi dengan langkah pasti, kuat, dan setia seperti gajah yang dihormati di hutan.

Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si

Guru Besar Hubungan Internasional, Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan