JurnalPatroliNews – Jakarta – Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna DPR RI dinilai mengandung pesan politik penting terkait hubungan pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP).
Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan apresiasi kepada PDIP yang memilih tetap berada di luar pemerintahan. Menurut Presiden, keberadaan oposisi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan demokrasi sekaligus menjalankan fungsi kontrol terhadap jalannya pemerintahan.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai pernyataan tersebut menunjukkan sikap Prabowo yang menghormati pilihan politik PDIP sebagai kekuatan penyeimbang di luar kekuasaan.
“Hal ini dapat dilihat Prabowo Subianto menghormati pilihan politik yang dipilih PDIP berada di luar kekuasaan dan menjadi penyeimbang terhadap pemerintah,” ujar Adi melalui kanal YouTube miliknya, Kamis (21/5/2026).
Direktur Parameter Politik Indonesia itu mengatakan Prabowo ingin menjaga hubungan politik yang baik dengan seluruh kelompok politik, termasuk pihak oposisi yang selama ini aktif memberikan kritik kepada pemerintah.
“Kita tahu bahwa PDIP di luar kekuasaan per hari ini banyak memberikan kritik, tapi bagi Prabowo Subianto itu adalah semacam vitamin untuk menjaga bagaimana kebijakan politik pemerintah hari ini sesuai dengan harapan,” katanya.
Menurut Adi, dinamika hubungan antara pemerintah dan oposisi merupakan hal yang lumrah dalam sistem politik multipartai di Indonesia. Ia menilai kompetisi dan kerja sama politik dapat berjalan beriringan dalam praktik demokrasi nasional.
“Itulah indahnya politik kita. Kadang saling bersaing kemudian berteman, setelah itu saling bersaing lagi dan seterusnya. Politik kita adalah politik yang penuh dengan kekeluargaan dan kerja sama,” ujarnya.
Adi juga menyoroti sistem presidensial multipartai yang membuat konfigurasi koalisi politik di Indonesia bersifat dinamis dan tidak permanen. Karena itu, ia meminta publik melihat dinamika politik secara lebih cair dan tidak kaku.
“Saya selalu mengingatkan di negara kita ini memaknai politik itu biasa-biasa saja,” katanya.
Lebih lanjut, Adi menilai pidato Prabowo semakin mempertegas pendekatan politik Presiden yang mengedepankan upaya merangkul berbagai kekuatan politik, termasuk oposisi.
“Oleh karena itu wajar kalau kemudian di tengah pidato politik Prabowo banyak sekali pihak yang semakin menebalkan suatu keyakinan bahwa mazhab politik Prabowo itu adalah mazhab politik rangkulisme. Politik yang menjaga keseimbangan politik dengan berbagai kalangan termasuk juga oposisi,” pungkasnya.














