Seminar Evaluasi Ekonomi Akhir Tahun

“Krisis global juga menjadikan suku bunga naik tinggi dan menyebabkan munculnya cost of fund di banyak benua. Terdapat 60 negara yang default karena kegagalan membayar hutang. Ujungnya, stagflasi mengancam. Inflasi global naik tinggi sekali tetapi pertumbuhan ekonomi melambat sehingga menjadi bentuk Stagflasi. Dampak bertubi-tubi dari ekonomi global mau tak mau akan berdampak pada perekonomian domestik.” Paparnya.

Pertumbuhan ekonomi sampai kuartal terakhir 2022 secara makro nampak baik. Pertumbuhan ekonomi mampu tumbuh 5% sebanding dengan ketika sebelum pandemi. Namun yang menjadi catatan, pertumbuhan tersebut berasal dari low base. Ada pada biaya rendah sehingga nanti ketika terdapat aktivitas ekonomi tinggi akan langsung melonjak ke biaya tinggi.

“Indonesia masih harus berhati hati terhadap kebijakan SBN domestic dan nilai tukar, memperhtikan angka kemiskinan dan pengangguran, ICOR kita yang masih tinggi sehingga berisiko keengganan pada investor luar negeri. Di samping itu juga harus mulai kreatif untuk mendekomposisi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, sehingga tidak lagi bergantung pada kenaikan harga komoditas sawit dan batubara. Karena diprediksi pada 2023 harga komoditas akan kembali turun.” Saran Handi.

Pembicara lainnya, Dr. Agus Herta Dosen Universitas Mercu Buana memaparkan bahwa siklus bisnis, mampu memperkirakan akan berada dimana kondisi ekonomi yang sangat baik, sehingga setelah 7 tahun kemudian ekonomi siap ketika terjadi paceklik.

“Siklus-siklus perekonomian yang diajarkan pada konsep The Joseph cycles. Ada siklus bisnis yang bisa menyebabkan situasi ekonomi berubah dan tidak bisa kita hindari. The great depression 1930 sebagai contoh, dan di Indonesia juga sudah  beberapa kali mengalami krisis.” Terangnya.

Herta menyatakan persetujuannya akan adanya intervensi pemerintah dari siklus bisnis yang konjungtif. Perlu adanya intervensi government supaya kondisi yang tidak optimal kembali ke kondisi optimalnya.