Sindiran Ahmad Ali Dinilai Berpotensi Jadi Bumerang bagi PSI

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pernyataan Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, kembali memicu keramaian di arena politik nasional setelah dirinya menyinggung soal seorang mantan Presiden RI yang telah berusia lanjut namun masih memimpin sebuah partai besar. Meski tidak menyebut nama, publik segera mengaitkannya dengan PDIP.

Pengamat politik dari Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai pernyataan tersebut cukup mengejutkan, mengingat selama ini PSI maupun kelompok relawan pendukung Jokowi dikenal jarang—bahkan nyaris tak pernah—melontarkan sindiran terhadap PDIP.

“Biasanya kader PSI dan relawan Jokowi tidak pernah bicara miring soal PDIP. Tapi sejak Ahmad Ali memegang posisi ketua harian, gaya seperti itu muncul,” ujar Adi di kanal YouTube miliknya, Senin, 24 November 2025.

Figur Baru yang Lebih Berani

Menurut Adi, Ahmad Ali tampil dengan karakter yang jauh lebih tegas dan ofensif dibandingkan para petinggi PSI sebelumnya. Ia dinilai bukan hanya aktif membela kepentingan partai, tetapi juga kerap melontarkan kritik keras ke berbagai pihak.

“Ahmad Ali muncul sebagai figur yang sangat vokal dan agresif. Gaya komunikasinya menjadi fenomena tersendiri dan ramai diperbincangkan di media sosial hingga media arus utama,” tuturnya.

Adi bahkan menyebut banyak pihak menilai gaya bicara Ahmad Ali terlalu ekstrem.

“Tidak sedikit yang menganggap Ahmad Ali terlalu tajam, cenderung vulgar, dan sangat frontal. Namun bagi Ahmad Ali, itu tampaknya tidak masalah. Selama menyangkut Jokowi—yang kini menjadi poros penting bagi PSI—ia terlihat siap pasang badan,” jelasnya.

Potensi Risiko bagi Elektabilitas PSI

Meski begitu, Adi mempertanyakan apakah strategi komunikasi keras tersebut benar-benar menguntungkan PSI yang saat ini tengah membangun ulang citra demi menembus parlemen pada Pemilu 2029.

“Pertanyaannya, apakah pernyataan Ahmad Ali ini justru menguatkan PSI atau malah bisa menjadi blunder? PSI sedang berbenah dan membutuhkan citra yang lebih positif,” katanya.

PSI di Persimpangan Jalan Politik

Ia menambahkan, perjalanan politik PSI akan semakin menarik diikuti. Partai yang dua kali gagal masuk DPR itu kini mencoba tampil dengan gaya baru yang memperlihatkan kedekatan kuat dengan Jokowi sebagai identitas politik utamanya.

Namun Adi memberi catatan penting: gaya komunikasi yang terlalu menyerang berpotensi tidak mendapat tempat di hati pemilih.

“Model komunikasi politik yang terlalu agresif dan konfrontatif tidak selalu mendapat apresiasi dari publik,” pungkasnya.