JurnalPatroliNews – Jakarta – Universitas Siber Asia (UNSIA) kembali menorehkan sejarah dengan meluluskan 879 mahasiswa dalam Prosesi Wisuda Ke-4 Periode II Tahun Akademik 2024/2025 yang digelar secara hybrid di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026.
Sebanyak 367 lulusan hadir langsung di lokasi, sementara 495 lainnya mengikuti prosesi secara daring dari berbagai negara, mulai dari Malaysia, Taiwan, hingga Arab Saudi.
Rektor UNSIA, Jang Youn Cho, dalam orasi ilmiahnya menegaskan bahwa para lulusan UNSIA disiapkan sebagai pionir di era Artificial General Intelligence (AGI). Ia mengajak wisudawan untuk tidak terjebak dalam persaingan dengan mesin, melainkan mengembangkan keunggulan manusiawi yang bersifat biologis dan berjiwa.
“Jangan berlomba dengan silikon. Kembangkan potensi kemanusiaan yang tak bisa digantikan teknologi,” ujar Jang Youn Cho.
Dalam kesempatan itu, UNSIA juga mengumumkan berbagai capaian strategis, termasuk penunjukan sebagai pusat World University Ranking for Innovation (WURI) di Indonesia, rencana menjadi Google Reference University pertama, serta komitmen sebagai pelopor pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pendidikan nasional.
Wisuda kali ini semakin istimewa dengan peluncuran program unggulan Transmigrasi Patriot 2026, sebuah gerakan nasional yang mengintegrasikan Tim Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot jenjang magister. Program ini dirancang untuk membangun kawasan transmigrasi yang produktif dan mandiri secara ekonomi berbasis riset terapan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi, Edy Gunawan, menyampaikan bahwa pada 2026 ditargetkan 1.000 penerima beasiswa S2 akan menjalani pendidikan selama 18 bulan, termasuk penelitian tesis dan pengabdian langsung di 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, menekankan pentingnya “DNA Digital” bagi lulusan kampus siber agar mampu bersaing di tengah disrupsi AI.
“Di era kecerdasan buatan, ijazah saja tidak cukup. Lulusan harus menjadi praktisi solutif yang mampu memadukan keahlian teknologi, komunikasi, dan manajemen untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat,” tegas Henri.














