JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang semakin masif.
Dalam sidang parlemen yang berlangsung panas pada Minggu, 11 Januari 2026, Qalibaf menegaskan bahwa militer kedua negara tersebut akan menjadi target yang sah jika Washington nekat melancarkan serangan ke wilayah Republik Islam Iran.
Pernyataan Qalibaf ini menjadi sorotan internasional karena secara terbuka memasukkan Israel sebagai target serangan balasan jika konflik dengan Amerika Serikat meningkat.
Suasana sidang parlemen pun dilaporkan diwarnai aksi para anggota dewan yang meneriakkan slogan anti-Amerika dari mimbar sidang sebagai bentuk dukungan terhadap garis keras pemerintah.
Ancaman ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapan untuk mengambil tindakan militer terhadap Teheran serta memberikan dukungan terbuka bagi para demonstran.
Hingga saat ini, unjuk rasa yang menantang sistem teokrasi Iran tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 116 orang dan menyebabkan sekitar 2.600 warga ditahan oleh pihak otoritas.
Merespons tekanan publik, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengisyaratkan akan melakukan tindakan yang lebih keras.
Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, bahkan mengeluarkan peringatan bahwa siapapun yang terlibat dalam protes akan dikategorikan sebagai musuh Tuhan. Di Iran, tuduhan tersebut merupakan pelanggaran hukum berat yang dapat berujung pada hukuman mati.
Di sisi lain, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang berada di pengasingan, terus menyerukan aksi lanjutan sepanjang akhir pekan ini.
Ia mendorong massa untuk menggunakan simbol-simbol era monarki guna merebut kembali ruang publik.
Meskipun memicu pro dan kontra di kalangan demonstran, tuntutan unjuk rasa kini telah berkembang jauh dari sekadar protes krisis ekonomi menjadi gerakan terbuka untuk menggulingkan sistem pemerintahan ulama yang telah berkuasa sejak 1979.













