JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan baru di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (5/5/2026), rentetan serangan rudal dan drone terjadi pada Senin dengan menargetkan sejumlah titik strategis serta kapal-kapal di perairan tersebut. Beberapa kapal dagang dilaporkan mengalami ledakan hebat hingga memicu kebakaran.
Militer AS mengklaim telah menghancurkan enam kapal kecil milik Iran yang disebut terlibat dalam operasi di kawasan itu. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Teheran yang menyebut informasi itu tidak akurat dan bersifat provokatif.
Di sisi lain, Iran juga melancarkan serangan ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA), termasuk pelabuhan minyak di Fujairah. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kebakaran besar dan mengganggu aktivitas distribusi energi di kawasan tersebut.
Eskalasi konflik semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperkenalkan inisiatif bertajuk “Project Freedom”, sebuah upaya untuk membantu kapal-kapal dagang yang terjebak agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Namun, langkah tersebut belum menunjukkan hasil signifikan. Sebaliknya, kebijakan itu justru memicu reaksi keras dari Iran yang menilai pendekatan militer hanya akan memperburuk situasi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa penyelesaian krisis tidak bisa dicapai melalui tekanan militer maupun ancaman kekuatan bersenjata.
“Pendekatan militer tidak akan menyelesaikan krisis yang ada. Dialog tetap menjadi satu-satunya jalan,” ujarnya.
Dampak konflik ini langsung terasa di pasar global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 5 persen seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Hingga kini, upaya diplomasi antara Washington dan Teheran belum menunjukkan perkembangan berarti. Meski sempat berlangsung pembicaraan awal, kelanjutan dialog masih belum jelas dan situasi di lapangan terus berada dalam kondisi yang sangat rawan.














