JurnalPatroliNews – Jakarta – Inisiatif gencatan senjata antara Iran dan Israel yang dimediasi oleh Amerika Serikat mendapat sambutan positif dari pelaku pasar global. Namun, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa langkah tersebut masih bersifat sementara dan belum menyentuh persoalan mendasar.
Wijayanto Samirin, ekonom dari Universitas Paramadina, menilai bahwa upaya damai yang diprakarsai oleh Presiden AS Donald Trump memang berhasil menurunkan ketegangan internasional dalam jangka pendek. Namun, ia menekankan bahwa dampak ekonomi yang ditimbulkan masih bersifat sesaat.
“Langkah ini memang menenangkan situasi, dan dalam jangka pendek baik bagi perekonomian global. Tapi untuk jangka panjang, dunia membutuhkan solusi yang lebih menyeluruh dan tidak bersifat tambal sulam,” ujarnya, Selasa, 24 Juni 2025.
Menurut Wijayanto, pendekatan kebijakan luar negeri Trump yang kerap berubah-ubah membuat proses perdamaian tidak bisa dijadikan pijakan yang solid. Ia bahkan mengibaratkan gaya kepemimpinan Trump sebagai tidak stabil.
“Trump sering bertindak impulsif, sulit ditebak, dan cenderung tidak konsisten. Situasi bisa berubah setiap saat. Dalam hal ini, kita tidak bisa terlalu mengandalkan pernyataan sesaat dari Trump,” tegasnya.
Melihat kondisi tersebut, Wijayanto mengingatkan pemerintah Indonesia agar tidak terlalu tergantung pada dinamika politik luar negeri, terutama yang berisiko tinggi. Ia menyarankan agar pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional guna menghadapi potensi gejolak geopolitik di masa depan.
“Kita harus fokus pada kemandirian energi. Perluas sumber impor minyak dan gas, dan percepat adopsi energi terbarukan. Diversifikasi dan transisi energi adalah kunci agar tidak mudah terdampak krisis luar,” tandasnya.














