JurnalPatroliNews – Jakarta – Harga minyak dunia mencatatkan penguatan pada perdagangan awal Senin, 23 Desember 2025. Kenaikan ini dipicu oleh tindakan Amerika Serikat yang mencegat sebuah kapal tanker minyak di perairan internasional lepas pantai Venezuela.
Peristiwa tersebut langsung direspon pasar dengan kenaikan kontrak berjangka minyak mentah Brent sebesar 44 sen atau 0,73 persen ke level 60,91 dolar AS per barel.
Kenaikan serupa juga dialami minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat yang menguat 40 sen atau 0,71 persen ke posisi 56,92 dolar AS per barel.
Penguatan harga ini didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan blokade total terhadap kapal tanker minyak Venezuela yang masuk dalam daftar sanksi.
Selain isu di Venezuela, sentimen pasar semakin diperkuat oleh laporan serangan drone Ukraina terhadap kapal armada bayangan Rusia di Laut Mediterania. Analis IG, Tony Sycamore, menilai pasar mulai skeptis terhadap hasil perundingan damai Rusia-Ukraina yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Situasi ini membantu mengimbangi kekhawatiran global terkait potensi kelebihan pasokan minyak di pasar internasional.
Padahal, pada pekan sebelumnya, harga Brent dan WTI sempat melemah sekitar 1 persen setelah anjlok cukup dalam pada minggu-minggu sebelumnya.
Namun, dengan munculnya risiko-risiko baru di perairan internasional, risiko pasar kini mulai condong kembali ke arah tren kenaikan harga minyak mentah.
Di sisi lain, upaya diplomasi masih terus berjalan. Utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, melaporkan adanya dialog produktif antara pejabat Amerika Serikat, Eropa, dan Ukraina di Florida.
Meski demikian, pihak Rusia menyatakan bahwa perubahan proposal perdamaian yang diajukan pihak Barat belum menunjukkan prospek yang signifikan untuk mengakhiri konflik dalam waktu dekat.












