JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Iran menegaskan tidak akan tunduk terhadap tekanan Amerika Serikat di tengah memanasnya konflik kawasan Timur Tengah. Teheran bahkan mengancam akan menyerang fasilitas energi di kawasan jika lebih dulu diserang oleh Washington dan sekutunya.
Peringatan keras itu disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur vital Iran akan dibalas tanpa kompromi.
“Begitu pembangkit listrik dan infrastruktur kami diserang, seluruh infrastruktur energi dan minyak di kawasan akan menjadi target sah dan akan dihancurkan secara permanen,” ujar Ghalibaf, dikutip dari Al-Jazeera, Senin (23/3/2026).
Ancaman tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jika tidak dipatuhi, Washington mengancam akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur vital energi global, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di kawasan ini telah memicu krisis energi yang disebut-sebut sebagai yang terburuk sejak dekade 1970-an.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa jalur tersebut sejatinya tetap terbuka, kecuali bagi pihak yang dianggap melanggar kedaulatan negaranya. Ia juga menyebut ancaman dari luar justru memperkuat solidaritas nasional Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai gangguan pelayaran lebih disebabkan kekhawatiran perusahaan asuransi terhadap situasi konflik, bukan karena penutupan resmi oleh pemerintah Iran.
Di sisi militer, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan kesiapan mereka untuk menutup total Selat Hormuz serta menyerang kepentingan Amerika Serikat jika ancaman direalisasikan. Bahkan, negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS disebut berpotensi ikut menjadi sasaran.
Di pihak lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terus mendorong dukungan internasional untuk menghadapi Iran. Ia menuding Teheran telah menargetkan warga sipil dan memperingatkan kemampuan serangan jarak jauh yang dimiliki Iran.
Upaya diplomasi sebenarnya masih berlangsung, termasuk inisiatif komunikasi oleh Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, untuk meredakan ketegangan. Namun di lapangan, serangan rudal dan drone masih terus terjadi, memicu korban jiwa serta mengguncang pasar energi global.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik belum menunjukkan tanda mereda, bahkan berpotensi memasuki fase yang lebih berbahaya dengan dampak luas bagi stabilitas kawasan dan dunia.














