Iran Tetapkan Angkatan Laut dan Udara Inggris sebagai Organisasi Teroris, MI6 Ikut Disasar

JurnalPatroliNews | Teheran – Iran tetapkan militer Inggris sebagai organisasi teroris melalui keputusan yang menyasar Angkatan Laut Kerajaan Inggris atau Royal Navy dan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF). Tak hanya dua matra militer tersebut, badan intelijen luar negeri Inggris, MI6, juga dimasukkan ke dalam kategori kelompok bermusuhan oleh pemerintah Teheran.

Keputusan tersebut menjadi langkah balasan Iran terhadap kebijakan Inggris yang sebelumnya menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) berdasarkan National Security (State Threats) Act 2026.

Mengutip kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Senin (2/11/2026), Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan kebijakan tersebut diambil berdasarkan resolusi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Dalam pengumumannya, Teheran menyebut langkah itu sebagai respons terhadap serangkaian kebijakan Inggris yang dinilai merugikan kepentingan dan keamanan nasional Iran.

Namun, terdapat perbedaan dalam kategori penetapan tersebut. Royal Navy dan RAF dinyatakan sebagai organisasi teroris berdasarkan ketentuan hukum Iran, sedangkan MI6 ditetapkan sebagai kelompok bermusuhan atau hostile group.

Iran Balas Penetapan IRGC oleh Inggris

Kementerian Luar Negeri Iran menjelaskan, salah satu alasan utama keputusan tersebut adalah kebijakan London yang memasukkan IRGC ke dalam daftar badan yang ditetapkan berdasarkan State Threats Act 2026.

Pemerintah Inggris mengumumkan langkah penetapan IRGC pada 13 Juli 2026. Kebijakan tersebut kemudian memperoleh persetujuan parlemen dan mulai berlaku pada 17 Juli 2026.

Melalui aturan tersebut, Inggris memberikan kewenangan untuk menetapkan badan-badan yang dinilai terlibat dalam aktivitas ancaman terhadap keamanan negara. Penetapan itu juga membawa konsekuensi hukum bagi pihak yang memberikan dukungan, bantuan, atau memperoleh keuntungan material dari badan yang masuk daftar tersebut.

Bagi Teheran, keputusan London terhadap IRGC merupakan tindakan yang harus direspons melalui kebijakan timbal balik.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan penetapan Royal Navy dan RAF dilakukan berdasarkan undang-undang mengenai tindakan balasan terhadap penetapan IRGC sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat.

Sementara itu, MI6 dikenai ketentuan berbeda berdasarkan undang-undang Iran mengenai peningkatan hukuman terhadap tindakan spionase dan kerja sama dengan negara-negara yang dianggap bermusuhan.

Iran Tuduh Inggris Dukung Operasi AS dan Israel

Selain mempersoalkan kebijakan Inggris terhadap IRGC, Teheran juga menuding London terlibat dalam perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pemerintah Iran menuduh Inggris memberikan akses terhadap pangkalan militer, fasilitas logistik, serta infrastruktur lain yang berada di bawah yurisdiksinya untuk mendukung operasi militer kedua negara tersebut.

Tuduhan itu menjadi salah satu dasar yang dikemukakan Kementerian Luar Negeri Iran dalam menjelaskan keputusan penetapan terhadap institusi keamanan Inggris.

Iran menilai dukungan fasilitas militer dan logistik tersebut sebagai tindakan yang bertentangan dengan kepentingan serta kedaulatan negaranya.

Namun, tuduhan mengenai keterlibatan Inggris tersebut merupakan posisi yang disampaikan pemerintah Iran. Penetapan yang diumumkan Teheran juga merupakan keputusan berdasarkan hukum domestik Iran dan tidak otomatis menjadi pengakuan hukum internasional yang berlaku secara universal.

Ketegangan Timur Tengah Belum Mereda

Hubungan Iran dengan Inggris semakin tegang di tengah konflik kawasan Timur Tengah yang belum menemukan penyelesaian permanen.

Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut kemudian diikuti aksi balasan Teheran yang menyasar sejumlah wilayah dan kepentingan militer di kawasan.

Sejumlah upaya diplomatik telah ditempuh untuk meredakan konflik. Washington dan Teheran juga dilaporkan menandatangani nota kesepahaman pada Juni 2026.

Meski demikian, situasi keamanan belum sepenuhnya stabil. Perselisihan masih berlangsung, terutama terkait pengaturan keamanan kawasan dan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Karena itu, ketegangan di kawasan tersebut berpotensi berdampak lebih luas terhadap keamanan maritim dan distribusi minyak serta gas internasional.

MI6, Royal Navy, dan RAF Jadi Sasaran Kebijakan Teheran

Penetapan MI6 sebagai kelompok bermusuhan serta Royal Navy dan RAF sebagai organisasi teroris memperlihatkan semakin kerasnya respons Iran terhadap kebijakan Inggris.

Langkah tersebut sekaligus memperluas ketegangan diplomatik dari persoalan penetapan IRGC menjadi saling menyasar institusi keamanan kedua negara.

Meski demikian, dampak praktis keputusan Iran terhadap hubungan bilateral maupun aktivitas institusi Inggris masih perlu dicermati. Kebijakan tersebut terutama menunjukkan posisi hukum dan politik yang diambil Teheran sebagai respons terhadap London.

Di tengah konflik Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda, keputusan saling menetapkan institusi keamanan sebagai ancaman berpotensi menambah ketegangan hubungan internasional.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons pemerintah Inggris, langkah diplomatik kedua negara, serta dinamika konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Komentar