JurnalPatroliNews | Riyadh – Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, menimbulkan korban jiwa dan ratusan orang luka-luka. Insiden yang diklaim kelompok Houthi tersebut turut menimpa warga sipil yang sedang bersiap melakukan perjalanan ibadah umrah, di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Yaman.
Reuters melaporkan, serangan pada Sabtu (10/10/2026) menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Sehari kemudian, proyektil kembali menghantam terminal bandara yang sama. Serangan pada Minggu (11/10/2026) tersebut menewaskan satu orang dan menyebabkan 11 orang lainnya terluka, menurut otoritas Arab Saudi.
Salah satu korban yang telah diidentifikasi adalah Mohammed Yousuf, warga negara India berusia 46 tahun yang sedang bepergian bersama istri dan tiga anaknya untuk menunaikan umrah. Menurut laporan The Indian Express, Yousuf meninggal akibat luka yang dideritanya, sementara istri dan ketiga anaknya turut mengalami luka-luka.
Detik-Detik Serangan Picu Kepanikan di Terminal
Serangan tersebut menyoroti risiko yang dihadapi penumpang sipil di tengah eskalasi konflik kawasan. Rekaman yang dirilis media Saudi memperlihatkan sejumlah calon jemaah berada di dekat gerbang keberangkatan ketika ledakan terjadi. Kilatan ledakan membuat orang-orang berlarian menyelamatkan diri, sementara bagian bangunan terminal dilaporkan mengalami kerusakan.
Bagi umat Islam dari berbagai negara, bandara-bandara di Arab Saudi menjadi pintu masuk penting untuk perjalanan menuju Makkah dan Madinah. Karena itu, serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil tidak hanya mengganggu mobilitas penumpang, tetapi juga berdampak terhadap perjalanan ibadah para jemaah.
Dalam laporan yang diterbitkan Senin (12/10/2026), Saudi Gazette turut menyoroti ancaman terhadap jemaah umrah dan wisatawan yang menggunakan Bandara Internasional King Khalid. Keberadaan penumpang yang hendak menjalankan ibadah di sekitar lokasi serangan memperlihatkan besarnya risiko yang dapat ditimbulkan eskalasi konflik terhadap masyarakat sipil.
Houthi Keluarkan Peringatan terhadap Bandara Arab Saudi
Kelompok Houthi sebelumnya mengeluarkan peringatan melalui pernyataan yang disebarkan di media sosial. Kelompok tersebut meminta maskapai penerbangan, pekerja bandara, dan penumpang untuk menghindari penggunaan bandara serta wilayah udara Arab Saudi karena dinilai rentan menjadi sasaran serangan.
Dalam pernyataannya, Houthi juga menyatakan Arab Saudi bertanggung jawab apabila sistem pertahanan udaranya gagal mencegat serangan. Kelompok tersebut memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut masih mungkin terjadi.
Reuters melaporkan bahwa juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bertanggung jawab atas serangan Sabtu terhadap Bandara Riyadh. Kelompok itu juga mengklaim melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam serta sejumlah fasilitas milik perusahaan minyak Saudi Aramco.
Serangan berulang tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan komersial dan infrastruktur sipil. Otoritas Saudi juga melakukan pemeriksaan keamanan dan penilaian kerusakan, sementara operasional Bandara Riyadh dihentikan setelah serangan pada Sabtu.
Arab Saudi Balas Serangan, 136 Target Militer Houthi Disasar
Di tengah meningkatnya serangan, koalisi pimpinan Arab Saudi yang terlibat dalam konflik Yaman melancarkan operasi militer terhadap kelompok Houthi.
Saudi Gazette melaporkan bahwa koalisi mengumumkan telah menghancurkan 136 target militer di wilayah yang dikuasai Houthi dalam operasi yang dilancarkan pada Jumat malam. Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Houthi dan mendukung pasukan pemerintah Yaman.
Situasi ini memperlihatkan meningkatnya intensitas saling serang antara kedua pihak. Serangan terhadap bandara dan fasilitas strategis, disusul operasi balasan, menambah kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan meningkatkan risiko bagi penduduk sipil di kawasan.
Meski demikian, klaim masing-masing pihak terkait sasaran dan hasil operasi militer perlu dibedakan dari informasi yang telah dikonfirmasi secara independen.
Berawal dari Perang Saudara Yaman
Konflik antara kelompok Houthi dan pihak yang didukung Arab Saudi berakar pada perang saudara Yaman yang semakin memanas sejak 2014. Pada tahun tersebut, Houthi mengambil alih ibu kota Sana’a dan menggulingkan pemerintahan yang dipimpin Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin intervensi militer bersama sejumlah negara koalisi untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Konflik kemudian berkembang menjadi krisis berkepanjangan dengan keterlibatan berbagai kekuatan regional.
Dalam perkembangannya, serangan lintas batas, operasi udara, dan perebutan wilayah strategis membuat situasi keamanan terus berubah. Meningkatnya ketegangan terbaru kembali menempatkan bandara, fasilitas energi, dan jalur transportasi sebagai titik rawan dalam konflik tersebut.
Keselamatan Warga Sipil Menjadi Sorotan
Serangan di Bandara Riyadh menegaskan bahwa dampak konflik bersenjata dapat menjangkau masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran, termasuk penumpang internasional dan calon jemaah umrah.
Bagi keluarga yang hendak melakukan perjalanan ibadah, insiden tersebut menjadi pengingat atas risiko yang dapat muncul ketika situasi keamanan memburuk. Di sisi lain, rangkaian serangan dan balasan militer menunjukkan bahwa ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi masih jauh dari penyelesaian.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada situasi keamanan di lapangan, langkah pertahanan Arab Saudi, serta kemungkinan upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi lebih luas. Sementara itu, keselamatan penumpang sipil dan perlindungan fasilitas penerbangan menjadi perhatian penting di tengah konflik yang terus berkembang.













Komentar