Ketegangan As-Venezuela Memuncak: Militer AS Akui Terlibat Ledakan di Ibu Kota Venezuela

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Kolombia, Gustavo Petro, secara resmi mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) untuk segera menggelar pertemuan darurat. Langkah diplomasi ini diambil menyusul serangan udara yang menghantam ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari.

Berdasarkan laporan lapangan, serangkaian ledakan hebat terdengar di berbagai titik kota sekitar pukul 01.50 waktu setempat.

Melalui unggahan di platform X, Presiden Petro secara terbuka mengumumkan kepada dunia bahwa Venezuela sedang berada di bawah gempuran rudal.

Meskipun awalnya simpang siur, pihak militer Amerika Serikat akhirnya mengakui keterlibatan mereka dalam rangkaian ledakan yang menargetkan pusat pemerintahan Nicolas Maduro tersebut. Hingga saat ini, baik Pentagon maupun Gedung Putih masih memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait detail operasi militer tersebut.

Eskalasi ini merupakan puncak dari memanasnya hubungan diplomatik antara pemerintahan Donald Trump dengan Venezuela. Sebelumnya, Trump menuduh kapal-kapal Venezuela sengaja masuk ke wilayah Amerika Serikat untuk mengedarkan narkoba.

Washington bahkan telah meluncurkan operasi militer terhadap kapal-kapal yang dituduh membawa narkoba, yang dilaporkan telah menewaskan setidaknya 107 orang.

Donald Trump secara spesifik menuduh Presiden Nicolas Maduro sebagai pemimpin kartel narkoba global, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh pihak Caracas.

Maduro menyatakan bahwa tuduhan tersebut hanyalah propaganda politik yang digunakan Trump sebagai alasan untuk menggulingkan pemerintahan sah Venezuela melalui intervensi militer langsung.

Desakan Kolombia untuk pertemuan darurat PBB mencerminkan kekhawatiran besar akan stabilitas keamanan di Amerika Selatan.

Serangan rudal ke pusat kota Caracas dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional yang sangat serius dan dapat memicu konflik regional yang lebih luas jika tidak segera ditangani melalui jalur diplomasi formal.