JurnalPatroliNews – JAKARTA – Harga minyak dunia menguat tajam pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul keputusan Israel memperluas operasi militernya ke wilayah Lebanon.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan internasional melonjak 2,45 persen menjadi US$93,35 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat naik lebih tinggi sebesar 2,8 persen menjadi US$89,78 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia.
Investor menilai eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon berisiko memperburuk stabilitas kawasan, terutama jika ketegangan melibatkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Situasi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu jalur distribusi energi strategis dan mempersempit pasokan minyak global.
Pelaku pasar juga mencermati kemungkinan meluasnya konflik yang berpotensi memengaruhi aktivitas produksi maupun pengiriman minyak dari negara-negara penghasil utama di kawasan tersebut.
Selain faktor geopolitik, sejumlah analis menilai pasar minyak saat ini masih dihadapkan pada ketidakpastian terkait keseimbangan antara pasokan dan permintaan global. Meski demikian, perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi sentimen dominan yang menggerakkan harga minyak dalam perdagangan awal pekan ini.
Menurut pengamat energi, setiap peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah biasanya langsung memicu premi risiko pada harga minyak karena wilayah tersebut memiliki peran penting dalam rantai pasok energi dunia.
Jika konflik terus meluas atau melibatkan lebih banyak pihak regional, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Sebaliknya, upaya diplomatik yang mampu meredakan ketegangan berpotensi mengurangi tekanan kenaikan harga di pasar energi global.
Untuk saat ini, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon serta dampaknya terhadap stabilitas pasokan energi internasional.













