JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Israel tengah menghadapi tekanan serius dalam penanganan kesehatan mental prajurit dan veteran perang, khususnya mereka yang mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD) akibat konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.
Dalam rapat Komite Kesehatan parlemen Israel (Knesset) pada Senin, 9 Februari 2026, Kepala Divisi Respons Layanan Sosial Kementerian Pertahanan Israel, Ronit Sandrovich, mengungkapkan keterbatasan tenaga pendamping psikologis yang sangat memprihatinkan. Saat ini, satu pekerja sosial harus menangani hingga 850 veteran dengan trauma perang.
Ketua Komite Kesehatan Knesset, Limor Son Har-Melech, menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban moral untuk bertanggung jawab atas dampak psikologis yang dialami para prajurit.
“Negara mengirim mereka ke medan tempur. Maka menjadi kewajiban negara pula untuk memastikan mereka mendapatkan dukungan penuh dalam proses pemulihan,” ujarnya, seperti dikutip dari Times of Israel, Selasa (10/2/2026).
Ia memastikan, isu rehabilitasi veteran perang akan ditempatkan sebagai agenda prioritas dalam sistem layanan kesehatan nasional Israel.
Data resmi Kementerian Pertahanan menunjukkan, sekitar 58 persen pasien yang menjalani perawatan di pusat rehabilitasi sejak 7 Oktober lalu mengalami PTSD atau gangguan kesehatan mental lain yang berkaitan dengan trauma perang.
Sementara itu, laporan Pusat Riset dan Informasi Knesset mencatat sebanyak 279 personel militer Israel dilaporkan mencoba mengakhiri hidupnya dalam rentang Januari 2024 hingga Juli 2025.
Pada tahun 2024, prajurit tempur tercatat menyumbang 78 persen dari total kasus bunuh diri di Israel. Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan periode 2017–2022 yang berada di kisaran 42–45 persen, serta jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar 17 persen.
Fakta lain yang menambah keprihatinan adalah minimnya akses layanan kesehatan mental. Hanya sekitar 17 persen dari prajurit yang meninggal akibat bunuh diri dalam dua tahun terakhir diketahui sempat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental dalam dua bulan sebelum kejadian.
Hasil investigasi internal militer menyimpulkan bahwa sebagian besar kasus bunuh diri berkaitan erat dengan tekanan psikologis akibat perang Gaza, termasuk masa penugasan panjang di wilayah konflik, paparan kekerasan ekstrem, serta kehilangan rekan satuan.














