JurnalPatroliNews – Tel Aviv – Media Israel seperti i24NEWS, The Jerusalem Post, Channel 12, dan Ynet melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berencana mengambil alih kendali penuh atas Jalur Gaza. Langkah ini disebut akan memperluas operasi militer ke seluruh wilayah, termasuk lokasi-lokasi yang diyakini menjadi tempat penahanan sandera oleh Hamas.
Mengutip Channel 12, analis politik Amit Sega menyatakan bahwa seorang pejabat senior di lingkaran Netanyahu mengungkap, “Keputusan telah diambil. Hamas tidak akan membebaskan sandera tanpa menyerah total, dan kami tidak akan menyerah. Jika tidak bertindak sekarang, para sandera berisiko meninggal kelaparan dan Gaza tetap di bawah kekuasaan Hamas.”
Rencana tersebut memicu kecaman keras dari Kementerian Luar Negeri Palestina, yang mendesak komunitas internasional untuk melakukan intervensi segera. Palestina menilai langkah Israel itu berbahaya, baik jika dilakukan sebagai uji reaksi global maupun sebagai rencana nyata yang akan dieksekusi.
Netanyahu dijadwalkan memimpin rapat kabinet membahas strategi militer berikutnya. Saat berkunjung ke fasilitas pelatihan militer, ia menegaskan tujuan Israel adalah menuntaskan kekalahan Hamas demi membebaskan semua sandera dan memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman.
Desakan dari Mantan Petinggi Keamanan Israel
Lebih dari 600 mantan pejabat tinggi keamanan Israel menandatangani surat kepada Presiden AS Donald Trump, meminta agar ia mendesak Netanyahu menghentikan perang di Gaza yang telah berlangsung hampir dua tahun. Di antara penandatangan surat itu terdapat mantan Kepala Mossad Tamir Pardo, mantan Kepala Shin Bet Ami Ayalon, dan mantan Wakil Kepala Staf IDF Matan Vilnai.
“Semua yang bisa diraih lewat kekerasan sudah tercapai. Para sandera tidak bisa menunggu lebih lama,” tulis kelompok Commanders for Israel’s Security (CIS) dalam pernyataannya.
Gelombang Demonstrasi di Tel Aviv
Sabtu (9/8) malam, ribuan warga memenuhi jalanan Tel Aviv untuk menuntut diakhirinya perang dan memastikan keselamatan para sandera. Mengutip AFP, Minggu (10/8), para demonstran membawa spanduk serta foto para sandera, dan memperingatkan Netanyahu agar tidak melancarkan operasi yang bisa membahayakan nyawa mereka.
“Kami akan mengejar Anda di setiap alun-alun, kampanye pemilu, kapan pun dan di mana pun jika operasi ini menewaskan para sandera,” ujar Shahar Mor Zahiro, kerabat salah satu korban.
Netanyahu sebelumnya menegaskan rencana merebut Kota Gaza, namun menyatakan Israel tidak berniat memerintahnya secara langsung. “Kami hanya ingin perimeter keamanan, bukan mengelola pemerintahan di sana,” katanya dalam wawancara dengan Fox News.
Meski kritik mengalir deras, termasuk kabar perbedaan pandangan di kalangan militer, Netanyahu tetap bersikeras melanjutkan strateginya.














