Pakistan-Afghanistan Sepakati Gencatan Senjata Lima Hari Selama Idulfitri


JurnalPatroliNews – ISLAMABAD — Ketegangan militer antara Pakistan dan Afghanistan untuk sementara mereda setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata selama lima hari dalam rangka perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.

Kesepakatan tersebut dimediasi oleh Arab Saudi, Turki, dan Qatar sebagai bagian dari upaya meredakan konflik yang dalam beberapa pekan terakhir telah menelan ratusan korban jiwa.

Momentum Idulfitri dimanfaatkan sebagai jalur diplomatik untuk menghentikan sementara eskalasi konflik yang terus meningkat di wilayah perbatasan kedua negara.

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan bahwa penghentian operasi militer akan berlangsung hingga Selasa (24/3/2026).

“Pakistan menyampaikan isyarat ini dengan itikad baik dan sesuai dengan norma-norma Islam,” ujarnya.

Namun demikian, Tarar menegaskan bahwa operasi militer dapat kembali dilanjutkan apabila terjadi pelanggaran, seperti serangan lintas batas, penggunaan pesawat nirawak, atau aksi terorisme di dalam wilayah Pakistan.

Dari pihak Kabul, juru bicara pemerintah, Zabiullah Mujahid, mengonfirmasi adanya kesepakatan gencatan senjata, meskipun tidak merinci durasi secara detail. Ia juga memperingatkan bahwa Afghanistan akan merespons tegas setiap bentuk agresi yang mengancam kedaulatan negaranya.

Sebelumnya, pemerintah Afghanistan menuding serangan udara Pakistan pada awal pekan ini sebagai penyebab ratusan korban jiwa. Mereka mengklaim sebanyak 408 orang tewas dan 265 lainnya terluka.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat jumlah korban tewas mencapai 143 orang. Pemerintah Pakistan membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa operasi militernya hanya menyasar target militer, bukan fasilitas sipil.

Salah satu serangan yang menjadi sorotan diduga menghantam fasilitas rehabilitasi narkoba Omid di Kabul, yang disebut sebagai salah satu insiden paling mematikan dalam eskalasi konflik terbaru.

Pada Kamis (19/3/2026), ratusan warga menghadiri pemakaman massal para korban. Proses pemakaman dilakukan dengan penggalian kuburan menggunakan alat berat, sementara relawan dari Afghan Red Crescent Society tampak mengangkut peti jenazah di tengah hujan.