JurnalPatroliNews – Jakarta -Mekanisme suksesi kepemimpinan tertinggi di Republik Islam Iran mulai menjadi fokus utama menyusul konfirmasi wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Sebanyak 88 anggota Majelis Ahli (Assembly of Experts) dilaporkan segera berkumpul untuk menentukan arah masa depan kepemimpinan negara tersebut di tengah situasi perang.
Berdasarkan laporan Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026), terdapat dua skenario besar yang sedang dipertimbangkan oleh otoritas keagamaan tertinggi Iran.
Skenario pertama merujuk pada persiapan yang telah dilakukan Khamenei sebelum wafat, di mana ia dikabarkan telah menyiapkan daftar empat nama calon pengganti potensial. Namun, hingga saat ini, identitas keempat sosok tersebut masih dirahasiakan oleh Majelis Ahli.
Skenario kedua yang muncul adalah pembentukan dewan sementara beranggotakan empat orang. Dewan ini diproyeksikan untuk menjalankan roda pemerintahan selama masa transisi hingga seorang Pemimpin Tertinggi baru terpilih secara resmi melalui mekanisme konstitusional.
Langkah ini diambil guna mencegah terjadinya kekosongan kekuasaan yang dapat mengancam stabilitas internal.
Laporan Reuters sebelumnya pada Juni 2025 mengungkapkan bahwa sebuah komite khusus beranggotakan tiga ulama terkemuka telah ditunjuk langsung oleh Khamenei untuk mempercepat perencanaan suksesi.
Sumber internal menyebutkan bahwa elite penguasa Iran berupaya melakukan penunjukan sesegera mungkin guna menegaskan kesinambungan revolusi Islam yang dirintis oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Dua nama besar yang santer diperbincangkan dalam diskusi internal adalah Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, serta Hassan Khomeini yang merupakan cucu dari pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Meskipun demikian, sumber-sumber tersebut menekankan bahwa daftar kandidat bersifat dinamis dan keputusan akhir tetap bergantung pada konsensus Majelis Ahli dengan mengutamakan kriteria kesetiaan pada prinsip revolusi.
Kematian Ali Khamenei telah dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Iran dan disiarkan melalui televisi pemerintah, IRINN, pada pukul 05.00 waktu setempat.
Dalam suasana duka di bulan suci Ramadan, Teheran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Pernyataan resmi pemerintah mengutuk serangan gabungan tersebut sebagai tindakan agresif yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan pihak Zionis.
Saat ini, mata dunia tertuju pada pertemuan Majelis Ahli di Teheran. Keputusan yang diambil oleh dewan ulama ini akan menjadi penentu apakah Iran akan mempertahankan garis kebijakan kerasnya atau melakukan penyesuaian strategi pasca-hilangnya figur sentral yang telah memimpin negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.














