JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah transisi Madagaskar secara resmi mencabut kewarganegaraan mantan presiden Andry Rajoelina melalui sebuah dekrit yang diterbitkan pada Jumat, 25 Oktober 2025.
Keputusan tersebut dikeluarkan hanya sepuluh hari setelah Rajoelina dilengserkan dari jabatannya melalui pengambilalihan kekuasaan oleh militer, menandai akhir dramatis dari masa kepemimpinannya.
Dengan pencabutan ini, Rajoelina secara hukum kehilangan seluruh hak politiknya, termasuk hak untuk mengikuti pemilihan umum di masa mendatang.
Mengutip laporan AFP, keputusan pemerintah didasarkan pada undang-undang kewarganegaraan Madagaskar yang menyebutkan bahwa setiap warga yang secara sukarela memperoleh kewarganegaraan asing akan otomatis kehilangan status kewarganegaraan Madagaskar.
Dekrit tersebut ditandatangani oleh Perdana Menteri baru, Herintsalama Rajaonarivelo, yang juga menegaskan dalam dokumen resmi bahwa Rajoelina telah memperoleh kewarganegaraan Prancis sejak tahun 2014. Salinan dan foto dokumen kewarganegaraan itu kini telah beredar luas di media sosial.
Isu mengenai kewarganegaraan ganda Rajoelina sejatinya sudah muncul sejak menjelang pemilihan presiden pada November 2023. Kala itu, publik Madagaskar dihebohkan oleh bocoran dokumen yang menunjukkan bahwa sang presiden telah menjadi warga negara Prancis hampir satu dekade sebelumnya.
Skandal tersebut memicu tuntutan agar Rajoelina didiskualifikasi dari pencalonan, namun Komisi Pemilihan tetap mengizinkannya maju. Ia akhirnya menang dalam pemilu tersebut, meskipun hasilnya kemudian diboikot oleh kubu oposisi.
Rajoelina, 51 tahun, akhirnya dimakzulkan pada 14 Oktober 2025 setelah melarikan diri dari gelombang demonstrasi besar-besaran di ibu kota Antananarivo.
Krisis mencapai puncaknya ketika Kolonel Michael Randrianirina dari Angkatan Darat secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap perintah menumpas demonstran yang didominasi oleh kaum muda, termasuk kelompok generasi Z.
Sejak saat itu, Rajoelina tidak lagi muncul di hadapan publik dan mengaku bersembunyi demi alasan keamanan. Hingga kini, lokasi keberadaannya masih menjadi misteri.














