Perintah Donald Trump Membara: AS Gempur Selat Hormuz, Iran Balas Drone Ke Pangkalan Teluk

JurnalPatroliNews – Washington – Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali membara setelah militer Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat aksi saling serang secara terbuka di jalur laut internasional.

Eskalasi militer yang memanas tersebut dipicu oleh insiden jatuhnya sebuah helikopter serbu jenis Apache milik armada udara AS di kawasan strategis Selat Hormuz.

Menanggapi peristiwa tersebut, Presiden AS Donald Trump langsung mengeluarkan instruksi kepada Komando Sentral AS (CENTCOM) untuk melancarkan operasi serangan udara balasan.

Pihak Washington menegaskan bahwa operasi tempur yang digelar pada petang hari tersebut merupakan bentuk pertahanan diri yang proporsional atas agresi sepihak dari pihak Teheran.

“Untuk apa yang telah mereka lakukan ke helikopter kami kemarin malam, dan saya percaya, responsnya harus sangat kuat,” tegas Donald Trump dalam wawancara resmi.

Berdasarkan rilis berkala dari CENTCOM, gempuran jet tempur AS diarahkan penuh untuk melumpuhkan jaringan sistem pertahanan udara, radar pengawas, serta pos pusat kendali logistik Iran.

Operasi pembalasan bersenjata tersebut menyasar tiga titik wilayah vital milik Iran, yakni mencakup kawasan pesisir Jask, Sirik, hingga wilayah kepulauan Qeshm.

Teheran Lancarkan Rudal Masif ke 22 Pangkalan Militer Teluk

Tidak tinggal diam atas gempuran tersebut, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) segera menggerakkan komando tempurnya untuk melakukan aksi balasan berskala besar.

Pihak otoritas pertahanan Teheran mengeklaim telah berhasil meluncurkan serangan pesawat tanpa awak (drone) dan rudal ke 22 target militer yang berafiliasi dengan AS.

Gelombang serangan udara dari pasukan elit Iran tersebut membidik sejumlah instalasi militer Amerika Serikat yang tersebar di yurisdiksi Yordania, Kuwait, hingga Bahrain.

Secara spesifik, pihak IRGC menyatakan bahwa target utama bombardir mereka adalah komplek hanggar jet tempur siluman F-35 dan pusat komando intelijen Pentagon.

Di wilayah Bahrain, serangan drone bunuh diri milik Iran dilaporkan membidik titik koordinat markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Sementara di Yordania, rudal pertahanan Iran diarahkan langsung menuju Pangkalan Udara Al-Azraq, bersamaan dengan serangan ke Pangkalan Ali Al Salem di Kuwait.

Meskipun mengeklaim sukses, media lokal melaporkan gempuran AS sebelumnya sempat merusak tiang telekomunikasi serta menghancurkan dua tangki air bersih di Kota Sirik.

Peringatan Menlu Abbas Araghchi dan Aktivasi Payung Udara Teluk

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui pernyataan resminya melemparkan ancaman keras agar pasukan militer Amerika Serikat segera angkat kaki dari wilayah Teluk.

Araghchi memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran tidak akan pernah membiarkan satu pun bentuk invasi udara asing masuk tanpa adanya jawaban bersenjata yang mematikan.

“Meskipun mereka sudah kalah di medan tempur, AS kembali ingin menguji determinasi kami. Pergi dari wilayah kami kalau ingin selamat,” tulis Abbas Araghchi lewat akun X resminya.

Merespons pertempuran udara yang kian tidak terkendali, jajaran pemerintah Yordania, Kuwait, dan Bahrain langsung menaikkan status keamanan ke tingkat siaga satu.

Ketiga negara sekutu AS di Timur Tengah tersebut mengonfirmasi telah mengaktifkan seluruh sistem pertahanan udara deteksi dini guna mengamankan wilayah kedaulatan mereka.

Seorang pejabat tinggi militer di Washington mengonfirmasi bahwa hampir seluruh objek rudal dan drone yang dilepaskan oleh militer Iran berhasil dicegat di udara sebelum menyentuh target.

Hingga saat ini, pihak Pentagon memastikan tidak ada laporan mengenai timbulnya korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur fatal pada barak militer utama milik Amerika Serikat.

Komentar