Trump Ragu Terima 14 Syarat Damai Baru dari Iran, Opsi Serangan Militer Tetap Terbuka


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan sikap skeptis terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan Iran di tengah rapuhnya gencatan senjata antara kedua negara. Trump bahkan menegaskan bahwa opsi serangan militer masih terbuka jika Teheran dinilai kembali melakukan tindakan yang dianggap mengancam.

Proposal damai Iran yang disampaikan melalui Islamabad itu disebut memuat 14 poin, termasuk penghentian konflik di seluruh front serta pembentukan kerangka baru terkait pengelolaan Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi dunia.

Meski mengaku akan segera meninjau dokumen tersebut, Trump meragukan bahwa proposal itu dapat diterima oleh Washington.

“Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya tidak dapat membayangkan bahwa rencana itu dapat diterima karena mereka belum membayar harga yang cukup mahal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap umat manusia dan dunia selama 47 tahun terakhir,” tulis Trump di platform Truth Social, seperti dikutip dari AFP, Minggu, 3 Mei 2026.

Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak menutup kemungkinan untuk kembali melancarkan serangan militer apabila Iran dianggap melampaui batas.

“Jika mereka berbuat nakal, jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, tapi untuk saat ini, kita lihat saja nanti. Tapi ada kemungkinan itu bisa terjadi, tentu saja,” tegasnya.

Pernyataan keras dari Washington langsung mendapat respons dari Teheran. Tokoh senior komando militer pusat Iran, Mohammad Jafar Asadi, menilai potensi konflik baru masih sangat besar karena Amerika Serikat dianggap tidak dapat dipercaya dalam menjalankan komitmen diplomatik.

“Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar akan terjadi. Bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berkomitmen pada janji atau perjanjian apa pun,” ujar Asadi.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa keputusan kini sepenuhnya berada di tangan Amerika Serikat.

“Kini bola berada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif,” katanya.

Ketegangan antara kedua negara terus menjadi perhatian dunia internasional, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak global. Setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi memicu gejolak ekonomi dan keamanan yang lebih luas.