Trump Tandatangani Perintah Eksekutif untuk Pelonggaran Regulasi Ganja

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menandatangani perintah eksekutif yang memperlonggar regulasi federal terkait ganja. Keputusan ini memungkinkan pemerintah AS untuk menurunkan status ganja dari kategori obat paling berbahaya (Schedule I) menjadi kategori yang lebih rendah (Schedule III), yang setara dengan obat-obatan seperti ketamin, testosteron, dan beberapa jenis obat pereda nyeri.

Jika kebijakan ini diterapkan, ini akan menjadi salah satu perubahan kebijakan ganja terbesar dalam beberapa dekade terakhir di Amerika Serikat.

Dengan perubahan status ini, ada potensi besar untuk merombak industri ganja, termasuk dalam hal memperluas penelitian medis, mengurangi hukuman pidana, serta membuka akses pendanaan dan layanan perbankan yang sebelumnya sulit dijangkau oleh industri ini. Namun, meskipun status ganja diperlunak, ganja tetap dianggap ilegal secara federal dan setiap negara bagian memiliki aturan yang berbeda terkait legalitasnya. Pemerintah juga menegaskan bahwa langkah ini masih memerlukan persetujuan dari Kongres untuk memastikan aturan yang lebih stabil dan jelas.

Trump menjelaskan bahwa kebijakan ini didorong oleh kebutuhan medis sebagian pasien yang sangat membutuhkan ganja untuk mengurangi rasa sakit. “Banyak orang yang sangat menderita dan benar-benar membutuhkan ini,” kata Trump, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters pada Jumat, 19 Desember 2025.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa dirinya pribadi tidak berminat menggunakan ganja dan tetap memandang zat ini sebagai bahan yang berisiko. Fokus utama pemerintah, menurut pejabat senior, adalah untuk memperluas penelitian medis guna lebih memahami manfaat dan risiko penggunaan ganja.

Langkah ini menuai reaksi politik yang terbagi. Pemimpin Partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menyambut positif kebijakan ini, sementara sejumlah politisi dari Partai Republik menentang keras, mengkhawatirkan bahwa kebijakan ini bisa memberikan “sinyal yang salah kepada anak-anak”, memperkuat kartel narkoba, dan membahayakan keselamatan publik.

Di pasar saham, perusahaan-perusahaan ganja sempat mengalami lonjakan setelah pengumuman ini, namun kemudian harga saham kembali turun ketika investor kecewa karena kebijakan tersebut tidak mencakup akses perbankan khusus untuk industri ganja.