JurnalPatroliNews – Jakarta – Menandai dimulainya peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, pemerintah menggelar momen spiritual lintas agama bertajuk Doa Kebangsaan yang berlangsung di kawasan bersejarah Tugu Proklamasi, Jakarta, pada Jumat malam.
Kegiatan yang dipenuhi suasana haru dan kebersamaan itu dihadiri sekitar 1.500 umat dari berbagai keyakinan, menyatu dalam doa dan refleksi nasional di tempat yang menjadi saksi kelahiran kemerdekaan Indonesia.
Berdasarkan siaran langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden RI, acara dimulai dengan lantunan lagu “Indonesia Raya” yang dinyanyikan bersama oleh seluruh peserta, mempertegas semangat nasionalisme yang menyatukan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar, dalam sambutannya, menekankan pentingnya spiritualitas sebagai landasan menjaga keutuhan bangsa. Ia menyampaikan bahwa dari generasi muda hingga yang lanjut usia, semua memiliki tanggung jawab mempertahankan kemerdekaan, salah satunya lewat kekuatan doa.
“Setiap warga bangsa, dari usia belia hingga senior, punya peran dalam menjaga negaranya—dan salah satu caranya adalah dengan berserah diri dalam doa seperti malam ini,” ujarnya.
Doa-doa lintas agama dibacakan secara bergiliran oleh enam tokoh spiritual nasional, yang mewakili enam agama resmi di Indonesia:
- Islam: Ketua Umum MUI, KH. Anwar Iskandar
- Kristen Protestan: Pdt. Jason Balompapueng
- Katolik: RD. Fransiskus Yance Sengga
- Hindu: Jero Mangku Gede Pastika dari PSN
- Buddha: Bhikkhu Dhammavuddho Victor Jaya Kusuma
- Konghucu: Ws. Sunarta Hidayat
Kehadiran para tokoh agama tersebut menunjukkan bahwa Indonesia adalah negeri yang tidak hanya menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa, namun juga nilai-nilai toleransi dalam keberagaman, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Di sela acara, juga digelar zikir kebangsaan yang dipimpin oleh KH. Anwar Iskandar, serta ditutup dengan doa oleh KH. Miftachul Akhyar, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Sejumlah pejabat negara, termasuk para menteri dan wakil menteri dari Kabinet Merah Putih, hadir dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa doa dan spiritualitas menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa.
Sebelumnya, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro menyatakan bahwa pemilihan Tugu Proklamasi sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Kawasan ini dianggap sebagai simbol perjuangan bangsa yang sangat bermakna.
“Sebagai negara berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, kita awali perayaan kemerdekaan dengan bersyukur melalui doa. Tugu Proklamasi menjadi tempat yang sangat tepat karena nilai historisnya,” ujar Juri dalam keterangan resmi di Istana Merdeka, Jumat siang.
Dengan digelarnya Doa Kebangsaan ini, bangsa Indonesia diingatkan kembali bahwa persatuan dalam keragaman adalah kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.














