28 Juta Perempuan Desa Dinilai Penentu Masa Depan Kedaulatan Pangan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Peran perempuan di wilayah pedesaan disebut menjadi salah satu kekuatan utama dalam menggerakkan kemandirian pangan nasional. Ketua Umum Perempuan Tani HKTI, Dian Novita Susanto, menuturkan bahwa terdapat sekitar 28,3 juta perempuan desa yang terlibat langsung dalam rantai produksi pangan Indonesia.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam ajang Nusantara Food Summit 2025 yang berlangsung di Jakarta.

Dalam diskusi yang mengusung tema “Agro-Livestockpreneur: Masa Depan Kemandirian Pangan Indonesia”, Dian hadir bersama Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Rektor IPB University Prof. Arif Satria, serta perwakilan dari Kemenko Pangan dan Agribisnis.

“Perempuan bukan sekadar pelaksana, tetapi aktor kunci yang mampu menggerakkan masa depan ketahanan pangan bangsa,” ujar Dian pada Sabtu, 8 November 2025.

Ia memaparkan bahwa mayoritas perempuan desa turut berkontribusi dalam kegiatan budidaya hingga distribusi pangan. Namun, akses terhadap lahan, teknologi pertanian, dan dukungan pembiayaan masih menjadi tantangan yang menghambat peran mereka.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Perempuan Tani HKTI mengembangkan pendekatan pemberdayaan bertajuk “Agro-Livestockpreneur”. Konsep ini dirancang agar lebih inklusif, adaptif, serta berorientasi keberlanjutan. Implementasinya dilakukan melalui strategi PENTA-A, yang terdiri dari lima unsur:

Awareness – membangun kesadaran terkait kesetaraan gender

Access – memperluas akses perempuan terhadap sumber daya

Ability – penguatan kapasitas dan keterampilan

Alliance – memperkokoh kemitraan lintas sektor

Added Value – menciptakan nilai tambah dengan prinsip ramah lingkungan

Dian menegaskan bahwa konsep tersebut sejalan dengan spirit Food Security 2.0, yakni integrasi antara proses produksi, pengolahan, dan pemasaran yang berlandaskan keadilan serta pemberdayaan kelompok perempuan.

Para narasumber dalam forum tersebut sepakat bahwa kolaborasi antara pemerintah, sektor akademik, dan dunia usaha—atau dikenal sebagai triple helix—merupakan fondasi penting untuk membangun sistem pangan yang lebih independen dan resilien.

“Kemandirian pangan mustahil tercapai tanpa jaminan pemerataan akses serta partisipasi perempuan pada berbagai tingkatan,” kata Dian.

Perempuan Tani HKTI berharap model kolaboratif ini mampu melahirkan lebih banyak agro-livestockpreneur perempuan yang kreatif, kompetitif, dan berperan sebagai pilar penguatan ketahanan pangan nasional di masa mendatang.