Abu Anak Krakatau Meneror Sejumlah Wilayah, Menkomdigi: Saring Sebelum Sharing!

JurnalPatroliNews | Jakarta — Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali menyita perhatian publik. Di tengah sebaran abu vulkanik dan terganggunya sejumlah penerbangan, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan masyarakat agar tidak ikut memperkeruh situasi dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Meutya meminta masyarakat tetap tenang, tetapi tidak mengendurkan kewaspadaan. Informasi mengenai perkembangan erupsi maupun dampaknya, menurut dia, harus merujuk kepada lembaga yang memiliki kewenangan.

“Yang paling penting adalah tetap tenang, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan. Masyarakat perlu mengikuti arahan dari otoritas terkait dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipercaya,” kata Meutya, Minggu (6/9/2026).

Imbauan itu disampaikan ketika aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih menjadi perhatian. Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir pada Minggu dini hari, tetapi status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. PVMBG juga mencatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB.

Sebaran abu vulkanik telah terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Dampaknya juga menjalar ke sektor penerbangan dengan terganggunya sejumlah layanan dan penutupan sementara beberapa bandara.

Jangan Sebarkan Informasi Belum Terverifikasi

Meutya secara khusus meminta masyarakat berhati-hati terhadap berbagai pesan, foto, video maupun narasi yang beredar di media sosial dan aplikasi percakapan.

Menurutnya, dalam situasi bencana, kecepatan penyebaran informasi harus diimbangi dengan verifikasi. Informasi yang salah justru berpotensi menimbulkan kepanikan.

“Pastikan keakuratan informasi dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan terkait kebencanaan gunung berapi demi menghindari misinformasi atau misleading yang dapat menyebabkan keresahan,” ujarnya.

Ia kemudian mengingatkan masyarakat dengan pesan sederhana namun penting: “Saring sebelum sharing.”

“Dalam situasi seperti ini, informasi yang tidak benar dapat menimbulkan kepanikan. Karena itu, saring sebelum sharing. Pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Meutya.

Untuk memastikan informasi yang diterima benar, masyarakat dianjurkan mengikuti pembaruan dari PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta instansi resmi lain yang memiliki kewenangan terkait kebencanaan.

Warga Diminta Lindungi Diri dari Abu Vulkanik

Selain memperingatkan soal informasi, Meutya menyampaikan sejumlah langkah perlindungan bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik.

Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker yang sesuai, seperti N95 atau KN95, serta mengenakan kacamata pelindung. Penggunaan lensa kontak atau softlens juga disarankan dihindari selama udara masih dipengaruhi abu vulkanik.

Aktivitas di ruang terbuka juga sebaiknya dikurangi. Warga yang harus berkendara diminta memperlambat laju kendaraan dan meningkatkan kewaspadaan karena abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang serta membuat permukaan jalan licin.

Setelah beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan mencuci tangan dan wajah serta memastikan sumber air bersih terlindungi dari paparan abu.

Radius 3 Kilometer Masih Berlaku

Meutya juga mengingatkan masyarakat, wisatawan dan nelayan untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.

Sesuai rekomendasi PVMBG, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

PVMBG sendiri memastikan status Level III atau Siaga masih berlaku meskipun episode erupsi menerus telah berhenti. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan karena aktivitas vulkanik masih dinamis dan kemungkinan erupsi susulan tetap menjadi perhatian.

Meutya menegaskan, keselamatan harus menjadi prioritas. Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap disiplin mengikuti arahan otoritas.

“Keselamatan adalah yang utama. Tidak perlu panik, namun tetap selalu waspada dan menjaga keselamatan serta kesehatan,” tutupnya.

Pesan pemerintah cukup jelas: erupsi perlu diwaspadai, tetapi kepanikan tidak boleh diproduksi oleh informasi yang tidak jelas sumbernya. Di tengah derasnya arus informasi digital, memastikan fakta sebelum membagikannya menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan bersama.

Komentar