Anak Krakatau Kembali Erupsi, Semeru hingga Gunung Ibu Ikut Aktif

JurnalPatroliNews | Jakarta — Aktivitas vulkanik di Indonesia kembali menunjukkan peningkatan. Hingga Senin (24/8/2026) pukul 11.15 WIB, sedikitnya empat gunung api dilaporkan mengalami erupsi, yakni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara.

Data aktivitas tersebut menunjukkan karakter erupsi yang berbeda di masing-masing gunung. Tinggi kolom abu yang teramati berkisar dari tidak teramati hingga sekitar 700 meter di atas puncak.

Masyarakat di sekitar gunung api diminta tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terutama mengenai radius kawasan yang harus dihindari.

Anak Krakatau Erupsi Dua Kali

Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas erupsi.

Berdasarkan laporan yang Anda berikan, erupsi teramati pada pukul 06.56 WIB dan kembali terjadi pukul 10.11 WIB. Pada erupsi kedua, kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat laut.

Badan Geologi sebelumnya menetapkan aktivitas Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

Masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang dan mengacu pada informasi resmi. Badan Geologi pernah menegaskan bahwa informasi tidak terverifikasi mengenai erupsi Anak Krakatau yang otomatis menyebabkan tsunami tidak boleh dipercaya.

Semeru Keluarkan Kolom Abu 700 Meter

Aktivitas berikutnya terjadi di Gunung Semeru yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.

Erupsi dilaporkan terjadi pukul 09.16 WIB, dengan kolom abu mencapai sekitar 700 meter di atas puncak atau sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak menuju timur laut.

PVMBG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak.

Masyarakat juga diminta menjauhi area sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar.

Selain itu, aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Semeru harus dihindari karena adanya potensi lontaran batu pijar.

Warga juga diminta mewaspadai awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai yang berhulu di puncak Semeru, termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Lewotobi Laki-laki Kembali Erupsi

Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, juga mengalami erupsi pada pukul 10.28 WITA.

Dalam laporan tersebut, tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.

Selain potensi bahaya langsung dari aktivitas vulkanik, warga juga diminta mewaspadai kemungkinan banjir lahar hujan apabila terjadi hujan berintensitas tinggi.

Sejumlah wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.

Warga yang terdampak hujan abu juga dianjurkan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.

Sebagai catatan, Badan Geologi sebelumnya menetapkan aktivitas Lewotobi Laki-laki pada level tinggi dan memberikan rekomendasi pembatasan aktivitas di sekitar pusat erupsi.

Gunung Ibu Erupsi, Abu Bergerak ke Timur

Aktivitas erupsi juga terjadi di Gunung Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara.

Erupsi dilaporkan berlangsung pukul 10.39 WIT, dengan kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 1.825 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal. Arah sebaran abu menuju timur laut dan timur.

Masyarakat di sekitar Gunung Ibu serta wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas.

Pembatasan juga berlaku pada sektor berjarak 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang melakukan aktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata.

Indonesia Berada di Jalur Cincin Api

Aktivitas beberapa gunung api dalam waktu yang berdekatan bukan fenomena yang sepenuhnya tidak biasa bagi Indonesia.

Letak Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik membuat wilayah ini memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik yang tinggi. Pertemuan sejumlah lempeng bumi membentuk jalur gunung api yang membentang di berbagai wilayah Indonesia.

Karena itu, erupsi pada beberapa gunung api dalam periode yang sama secara statistik memungkinkan terjadi, meskipun aktivitas masing-masing gunung memiliki mekanisme dan karakteristik yang berbeda.

Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari, sebelumnya menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia di jalur tektonik aktif dengan puluhan gunung api aktif membuat potensi aktivitas erupsi secara bersamaan tetap ada.

Masyarakat Diminta Tidak Abaikan Peringatan

Rangkaian erupsi tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat di sekitar gunung api perlu mengikuti rekomendasi resmi, bukan hanya melihat tinggi kolom abu sebagai indikator bahaya.

Ancaman erupsi dapat berupa lontaran material pijar, awan panas, guguran lava, lahar maupun hujan abu. Risiko juga dapat berubah sesuai perkembangan aktivitas masing-masing gunung.

Karena itu, masyarakat, wisatawan, dan pendaki diimbau mematuhi batas kawasan yang ditetapkan PVMBG serta tidak memasuki zona terlarang.

Informasi terbaru mengenai status dan rekomendasi gunung api sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia, bukan dari video atau informasi media sosial yang belum terverifikasi. Badan Geologi juga secara khusus mengingatkan masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi erupsi Anak Krakatau yang sumbernya tidak jelas.

Komentar