JurnalPatroliNews | Maros — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sulawesi Selatan mulai menimbulkan ketegangan di lapangan.
Di Kabupaten Maros, situasi antrean BBM bahkan berujung keributan. Seorang operator SPBU berinisial Syahar (21) terlibat perkelahian dengan seorang pengendara sepeda motor di SPBU Bentenge, Dusun Bentenge, Desa Bonto Mate’ne, Kecamatan Mandai, Jumat (11/9/2026) malam.
Dalam peristiwa tersebut, Syahar dilaporkan mengalami sakit pada bagian pelipis kiri setelah diduga dipukul oleh pengendara yang menyerobot antrean.
Kapolsek Mandai AKP Syamsul membenarkan kejadian itu. Menurut dia, kasus tersebut masih dalam penyelidikan untuk mengungkap identitas dan peran pihak yang terlibat.
“Iya benar, terjadi keributan di SPBU. Operator dianiaya pengendara motor,” kata Syamsul saat dikonfirmasi, Sabtu (12/9/2026).
Penyerobotan Antrean Berujung Cekcok
Keributan bermula ketika korban sedang melayani pengisian BBM kendaraan yang telah berada dalam antrean.
Tiba-tiba, seorang pengendara sepeda motor yang berboncengan datang dan diduga menyerobot antrean. Pengendara tersebut juga membawa jeriken dan meminta agar BBM jenis Pertalite segera diisikan.
Namun, permintaan itu ditolak operator.
Penolakan tersebut kemudian memicu adu mulut. Situasi yang awalnya berupa perdebatan berubah menjadi kontak fisik antara operator dan pengendara.
“Pelaku memukul pelipis kiri korban dan korban berusaha melawan. Sehingga keributan terjadi,” ujar Syamsul.
Pengendara lain yang menyaksikan kejadian tersebut kemudian berupaya melerai keduanya. Keributan akhirnya berhenti dan pengendara yang diduga menjadi pelaku meninggalkan lokasi.
Polisi kini melakukan penyelidikan untuk mengetahui secara pasti kronologi serta mengidentifikasi pihak yang terlibat dalam perkelahian tersebut.
Antrean BBM Mengular di Sulsel
Peristiwa di Maros terjadi ketika antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan masih menjadi perhatian.
Dalam beberapa pekan terakhir, antrean terlihat terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Makassar, Maros dan Gowa. Kendaraan bahkan dilaporkan mengular hingga keluar area SPBU dan memenuhi bahu jalan.
Panjangnya antrean membuat sebagian pengendara harus menunggu selama berjam-jam. Dalam kondisi tertentu, ada pengendara yang memilih bertahan hingga malam bahkan bermalam untuk mendapatkan BBM.
Situasi tersebut membuat tekanan di lapangan semakin tinggi. Pengendara membutuhkan kepastian memperoleh BBM, sementara petugas SPBU harus menghadapi lonjakan jumlah kendaraan dalam waktu bersamaan.
Kondisi seperti inilah yang berpotensi memunculkan gesekan apabila terjadi persoalan antrean, pembatasan pengisian, maupun perbedaan perlakuan terhadap kendaraan.
Pertamina Klaim Pasokan Ditambah
Di tengah keluhan mengenai antrean panjang, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyatakan telah melakukan penambahan pasokan BBM dan memastikan ketersediaan stok dalam kondisi aman.
Namun, kondisi di sejumlah SPBU menunjukkan antrean masih terjadi.
Perbedaan antara pernyataan ketersediaan stok dan kondisi antrean di lapangan membuat persoalan distribusi menjadi salah satu hal yang terus mendapat perhatian masyarakat.
Bagi konsumen, indikator paling nyata bukan hanya jumlah stok di tingkat penyalur, tetapi kemudahan mendapatkan BBM tanpa harus menunggu berjam-jam.
Antrean Panjang Jangan Berujung Konflik
Peristiwa di SPBU Bentenge menjadi gambaran bahwa persoalan kelangkaan atau keterbatasan akses BBM dapat berkembang menjadi persoalan keamanan apabila tidak dikelola dengan baik.
Antrean yang panjang membutuhkan pengaturan, informasi yang jelas serta kepatuhan semua pihak terhadap mekanisme pelayanan di SPBU.
Di sisi lain, petugas SPBU juga berada di garis depan menghadapi tekanan konsumen ketika permintaan meningkat.
Karena itu, setiap persoalan antrean idealnya diselesaikan melalui komunikasi dan tidak berkembang menjadi tindakan kekerasan.
Kasus Maros kini ditangani kepolisian. Terlepas dari proses hukum yang berjalan, insiden tersebut memperlihatkan satu persoalan yang lebih besar: ketika kebutuhan energi masyarakat tidak diikuti pelayanan distribusi yang dirasakan lancar, gesekan di lapangan semakin mudah terjadi.
Penyelesaian masalah BBM pada akhirnya tidak cukup hanya berbicara mengenai ketersediaan stok. Distribusi, pelayanan, pengawasan antrean dan kepastian bagi konsumen juga menjadi bagian penting agar persoalan serupa tidak kembali memicu keributan.















Komentar