JurnalPatroliNews | Surabaya — Penguatan koperasi dan kebangkitan ekonomi kerakyatan menjadi sorotan dalam penutupan Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/10/2026). Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa pengembangan koperasi merupakan bagian dari upaya melanjutkan cita-cita H.O.S. Tjokroaminoto tentang sosialisme Islam.
Penutupan kongres tersebut turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Ketua Dewan Pusat Syarikat Islam periode 2026–2031, Hamdan Zoelva. Forum ini menjadi momentum bagi Syarikat Islam untuk menegaskan kembali peran dakwah ekonomi dalam memperkuat kemandirian umat dan membangun kesejahteraan masyarakat.
Ferry menyampaikan bahwa kemerdekaan sejati tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan politik, tetapi juga harus diwujudkan melalui kemandirian ekonomi. Menurutnya, gagasan sosialisme Islam yang diperjuangkan H.O.S. Tjokroaminoto sejak masa pergerakan nasional tetap relevan sebagai landasan membangun ekonomi yang berpihak kepada rakyat.
“Tema dakwah ekonomi yang diusung Syarikat Islam bertujuan untuk mewujudkan kemerdekaan yang sejati. Gagasan ini berakar dari ide besar sosialisme Islam yang dicetuskan oleh H.O.S. Tjokroaminoto untuk melawan kolonialisme dan imperialisme pada masa lampau,” ujar Ferry.
Ia juga mengingatkan pentingnya sejarah gerakan koperasi dalam perjuangan ekonomi bangsa. Ferry menyebut Koperasi Setia Budi Usaha yang dikaitkan dengan H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya pada 1913 sebagai salah satu rujukan dalam perjalanan gerakan koperasi Indonesia.
Bagi Ferry, tantangan ekonomi nasional saat ini menuntut keterlibatan aktif seluruh kader Syarikat Islam. Ia mendorong organisasi tersebut berada di garis depan dalam memperjuangkan transformasi ekonomi yang berorientasi pada kepentingan rakyat, sebagaimana semangat Pasal 33 UUD 1945.
“Transformasi ini memiliki konsekuensi-konsekuensi, punya perjuangan, punya pengorbanan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kaum Syarikat Islam harus berada di garis yang terdepan untuk melawan kaum atau orang-orang yang ingin tetap melanggengkan sistem praktik ekonomi kita menjadi tetap liberal kapitalistik,” tegasnya.
Selain menyoroti arah kebijakan ekonomi, Ferry mengapresiasi sinergi Kementerian Koperasi dan Kementerian Agama dalam mendorong pembentukan koperasi di masjid-masjid di seluruh Indonesia. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU.
Menurut Ferry, kolaborasi antara organisasi Islam, rumah ibadah, dan ekosistem koperasi berpotensi memperluas kesempatan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara terarah dan berkelanjutan.
“Insyaallah itu bisa menjadi ekosistem yang akan mewujudkan ekonomi umat. Organisasi Islam bersama ekosistem koperasi dan seluruh instrumennya bisa menjadi kekuatan alternatif bagi rakyat Indonesia untuk menuju kehidupan yang lebih baik,” katanya.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sambutannya mengajak kader Syarikat Islam kembali menelusuri sejarah organisasi tersebut, yang berakar dari Serikat Dagang Islam (SDI). Ia menilai penguatan ekonomi merupakan bagian penting dari perjuangan agar umat tidak tersisih dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
“Jika kita ingin melihat sejarah pergerakan nasional yang paling pertama, itu adalah Serikat Dagang Islam. Visi para pendahulu kita sangat jelas, bahwa jika ingin memerdekakan umat Islam, caranya adalah melalui penguatan ekonomi agar tidak menjadi kaum yang termarginalkan,” ujar Nasaruddin.
Menag juga memaparkan potensi pengembangan ekonomi umat melalui rumah ibadah dan lembaga pendidikan Islam. Salah satu gagasan yang disampaikan ialah mengoptimalkan masjid dan pesantren sebagai pusat kegiatan ekonomi, termasuk melalui pembangunan jaringan ritel atau minimarket umat.
Dengan jumlah masjid dan pesantren yang besar di Indonesia, Nasaruddin menilai pengelolaan usaha secara profesional dan berjamaah dapat membuka peluang agar manfaat ekonomi kembali mendukung kesejahteraan jamaah dan lingkungan sekitarnya.
“Bayangkan jika dari ratusan ribu masjid di Indonesia, sebagian besar memiliki perkarangan atau ruang untuk membangun minimarket umat. Keuntungan dari transaksi tersebut akan kembali berputar untuk kesejahteraan masjid dan jamaah itu sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pusat Syarikat Islam Hamdan Zoelva menekankan pentingnya menjaga konsistensi dakwah ekonomi yang telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi selama bertahun-tahun.
Hamdan mengenang kepemimpinannya di Syarikat Islam sejak 2010 hingga 2026. Ia menyebut organisasi perlu terus memperkuat identitas awalnya sebagai gerakan dakwah dan ekonomi yang tumbuh dari aktivitas perdagangan serta kewirausahaan.
“Kita fokus pada organisasi dakwah dan kita fokus lagi pada DNA awal lahirnya Syarikat Islam yang direka oleh para pengusaha dan para entrepreneur, yaitu Syarikat Dagang Islam yang kemudian ditumbuhkembangkan oleh H.O.S. Tjokroaminoto,” ujar Hamdan.
Penutupan Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 ini menegaskan kembali agenda Syarikat Islam untuk memperkuat dakwah ekonomi melalui koperasi, pemberdayaan umat, dan kerja sama lintas lembaga. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan gagasan tersebut menjadi program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara nyata.














Komentar