JurnalPatroliNews – Washington – Orang nomor satu di pemerintahan Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan secara resmi melayangkan permintaan perbaikan atas berkas resolusi damai ketatanegaraan.
Presiden Negeri Paman Sam tersebut meminta sejumlah poin revisi terhadap rancangan kesepakatan pemungkas untuk mengakhiri silsilah perang terbuka yang melanda kawasan Iran dan AS.
Berkas klausul perdamaian yang dikoreksi tersebut sejatinya merupakan produk hukum yang telah dinegosiasikan secara intensif oleh tim perunding dari delegasi kedua negara.
Berdasarkan silsilah laporan media The New York Times yang mengutip sumber kantor berita AFP pada hari Minggu ini, Trump menghendaki adanya prasyarat yang jauh lebih ketat.
Kalkulasi poin pengetatan tersebut wajib dipenuhi oleh pihak seberang sebelum dirinya bersedia membubuhkan tanda tangan persetujuan resmi atas dokumen perjanjian tersebut.
Kerangka lembar kesepakatan yang telah disusun ulang oleh pihak Washington kini dikabarkan telah dikirim kembali ke Teheran untuk dipertimbangkan secara saksama oleh otoritas Iran.
Kendati rincian perubahan poin belum dibuka secara gamblang ke ruang publik, media Axios membeberkan bahwa Trump membidik dua klaster utama terkait program nuklir serta akses maritim.
Trump dilaporkan sangat fokus untuk memperjelas silsilah mekanisme penanganan serta pembersihan tumpukan stok uranium yang selama ini telah diperkaya oleh pihak militer Iran.
Seorang pejabat senior dari jajaran pemerintahan Amerika Serikat membocorkan bahwa Washington menginginkan kepastian detail mengenai bagaimana dan kapan material berbahaya itu diserahterimakan.
Nasib Jalur Logistik Energi Global di Selat Hormuz Hingga Tenggat Waktu Respons Resmi Otoritas Teheran
Selain urusan hulu ledak nuklir, Donald Trump juga menuntut adanya perubahan redaksi kalimat hukum terkait sirkulasi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selat strategis tersebut dikenal luas sebagai urat nadi perdagangan minyak mentah internasional yang melayani sirkulasi sirkulasi dua puluh persen pasokan energi dunia.
Langkah intervensi koreksi dari pihak Gedung Putih ini dinilai memiliki potensi besar untuk membuat silsilah proses diplomasi kedua belah pihak kembali molor hingga beberapa hari ke depan.
Otoritas Iran sendiri diprediksi bakal memerlukan alokasi waktu sedikitnya tiga hari penuh guna merumuskan lembar tanggapan resmi atas usulan revisi terbaru dari pihak Washington.
Pihak internal pertahanan Amerika Serikat menaruh harapan besar agar hasil konkrit dari silsilah tawar-menawar ini sudah bisa draf terlihat pada momentum pergantian pekan.
Sebelumnya, sejumlah informan diplomatik sempat meyakini bahwa berkas draf kesepakatan damai tersebut sebenarnya sudah berada pada silsilah final dan tinggal menunggu restu Trump.
Namun dalam agenda rapat tertutup yang digelar di ruang Situation Room Gedung Putih pada hari Jumat lalu, Trump nyatanya memilih untuk menahan keputusan finalnya.
Sejak awal ketegangan pecah, Trump konsisten mengunci dua target operasi utama, yakni memastikan Teheran tidak memproduksi senjata nuklir serta mendesak pembukaan Selat Hormuz.
Jalur laut vital tersebut diketahui telah mengalami sirkulasi blokade total oleh armada laut Iran pasca-pecahnya perang imbas serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Hingga silsilah kabar perkembangan politik internasional ini diturunkan, belum ada lembar pernyataan ataupun tanggapan resmi yang dikeluarkan oleh pihak kementerian luar negeri Iran.











