JurnalPatroliNews | Jombang — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengajak para santri untuk terus menghidupkan semangat Resolusi Jihad dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa di era modern.
Pesan tersebut disampaikan Gus Kikin saat memberikan amanat dalam Apel Hari Santri 2026 di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026). Ia menegaskan, nilai perjuangan yang diwariskan pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, tetap relevan meskipun bentuk perjuangan saat ini berbeda dengan masa awal kemerdekaan.
“Kita telah merdeka lebih dari delapan dekade, tetapi tantangan bangsa dan negara kita masih sangat besar. Dalam hal ini, semangat Resolusi Jihad itu masih relevan dan perlu terus kita hidupkan,” ujar Gus Kikin.
Menurutnya, perjuangan pada masa kini tidak lagi identik dengan mengangkat senjata. Semangat tersebut perlu diwujudkan melalui pemikiran, kepedulian sosial, serta gerakan nyata untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan negara.
“Bukan melalui bambu runcing dan mengangkat senjata, melainkan melalui pemikiran dan gerakan untuk ikut serta di dalam mengatasi kemiskinan, kebodohan, kerusakan hutan dan lingkungan, praktik korupsi, dan tantangan yang lainnya,” katanya.
Mengingat Sejarah Resolusi Jihad
Dalam amanatnya, Gus Kikin juga menguraikan latar belakang lahirnya Resolusi Jihad ketika Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial setelah memproklamasikan kemerdekaan.
Ia menjelaskan, Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia dengan memanfaatkan kehadiran tentara Sekutu. Situasi tersebut menimbulkan ancaman terhadap kemerdekaan yang baru diraih bangsa Indonesia.
“Melalui cara mendompleng tentara Sekutu, NICA masuk kembali ke wilayah Indonesia. Mereka ingin kembali menguasai negara kita,” ujarnya.
Gus Kikin kemudian mengisahkan bahwa Presiden Soekarno mengirimkan utusan kepada KH Hasyim Asy’ari untuk meminta pandangan mengenai hukum memerangi penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam penjelasannya, Gus Kikin mengutip pandangan KH Hasyim Asy’ari yang menegaskan kewajiban membela kemerdekaan dari ancaman penjajahan.
“Hukum memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia adalah fardu ain, artinya adalah suatu kewajiban bagi semua umat Islam untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan. Siapa pun yang mati dalam perjuangan itu tergolong syahid,” tutur Gus Kikin saat menyampaikan kembali pandangan tersebut.
Ia menjelaskan, Resolusi Jihad menjadi salah satu sumber dorongan spiritual dan mobilisasi perjuangan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno.
Menurutnya, keputusan para ulama tersebut merupakan respons terhadap situasi yang dinilai mengancam agama dan negara, sekaligus seruan agar pemerintah mengambil langkah nyata untuk menghadapi ancaman terhadap Republik Indonesia.
“Para ulama itu membuat keputusan yang disebut Resolusi Jihad, yang hari ini kita peringati, yaitu permohonan kepada pemerintah Republik Indonesia agar menentukan sikap dan tindakan yang nyata atas situasi yang sudah membahayakan agama dan negara Indonesia,” katanya.
Semangat Santri untuk Persoalan Bangsa
Pesan Gus Kikin dalam Apel Hari Santri 2026 menekankan bahwa warisan perjuangan para ulama perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Upaya mengatasi kemiskinan, memperluas akses pendidikan, menjaga kelestarian lingkungan, serta melawan praktik korupsi disebut sebagai bagian dari tantangan yang membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk kalangan santri.
Apel Hari Santri 2026 yang diselenggarakan PBNU di Pesantren Tebuireng tersebut dihadiri sejumlah tokoh PBNU, pejabat pemerintah, perwakilan pondok pesantren, serta para santri.
Melalui peringatan tersebut, semangat Resolusi Jihad kembali diangkat sebagai pengingat sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan sekaligus dorongan bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam membangun bangsa.














Komentar