JurnalPatroliNews | Jakarta — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan tema dan logo Hari Santri 2026 dengan pesan yang menempatkan tradisi pesantren sebagai fondasi untuk menghadapi perubahan zaman.
Tema yang diusung tahun ini adalah “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Identitas tersebut resmi diperkenalkan PBNU dalam agenda di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (30/9/2026), bersamaan dengan pengumuman struktur Pengurus PBNU Masa Khidmah 2026–2031.
Sekretaris Jenderal PBNU Gus Gudfan Arif menjelaskan tema itu tidak sekadar menjadi slogan peringatan tahunan. Menurut dia, ada pesan agar santri terus berkembang mengikuti perubahan teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi tetap berpijak pada tradisi keilmuan, sanad dan adab pesantren.
“Santri harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi jangan pernah kehilangan akar,” kata Gus Gudfan.
Tradisi Menjadi Fondasi Menghadapi Zaman
Bagi PBNU, perkembangan zaman tidak harus dipertentangkan dengan tradisi pesantren.
Justru, tradisi keilmuan dan nilai yang diwariskan para masyayikh dipandang sebagai fondasi agar santri mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas.
Gus Gudfan menyebut akar tersebut mencakup tradisi keilmuan pesantren, sanad, adab serta nilai-nilai yang diwariskan para masyayikh. Fondasi itu diharapkan menjadi modal bagi santri untuk memahami perubahan sekaligus mengambil peran dalam persoalan baru yang muncul di masyarakat.
Pesan tersebut menempatkan santri bukan hanya sebagai pewaris tradisi, tetapi juga sebagai kelompok yang diharapkan mampu menerjemahkan nilai pesantren ke dalam konteks kehidupan modern.
Semakin Kuat Akar, Semakin Luas Pengabdian
Gus Gudfan menekankan bahwa kekuatan tradisi tidak seharusnya membuat ruang gerak santri menjadi sempit.
Sebaliknya, menurut dia, semakin kokoh fondasi keilmuan yang dimiliki, semakin besar pula ruang pengabdian yang dapat dijangkau.
“Semakin kuat akarnya, semakin luas pula pengabdiannya,” ujar Gus Gudfan.
Dengan kerangka tersebut, Hari Santri 2026 diarahkan untuk mengingatkan bahwa pendidikan pesantren tidak berhenti pada pewarisan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter, tanggung jawab sosial dan kemampuan untuk merespons persoalan masyarakat.
Frasa “Menjaga Keutuhan Negeri”
Bagian kedua tema Hari Santri 2026 menekankan aspek kebangsaan.
PBNU menghubungkan frasa “Menjaga Keutuhan Negeri” dengan sejarah panjang kaum santri dan pesantren dalam perjalanan Indonesia. Nilai persaudaraan, kebinekaan dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia ditempatkan sebagai bagian dari pesan kebangsaan yang ingin kembali ditegaskan.
Gus Gudfan menyatakan cinta terhadap tradisi dan kecintaan kepada bangsa tidak berada pada dua ruang yang berlawanan.
Menurutnya, nilai pesantren mengajarkan agar kehidupan keagamaan berjalan beriringan dengan upaya menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa.
Dengan demikian, tema Hari Santri tahun ini membawa dua pesan yang saling berkaitan: mempertahankan akar keilmuan sekaligus memperluas kontribusi dalam kehidupan kebangsaan.
Akar, Kitab, Kubah dan Bintang dalam Logo
Pesan tersebut juga diterjemahkan melalui desain logo Hari Santri 2026.
Logo menggunakan sejumlah unsur utama, yaitu akar, kitab terbuka, kubah dan bintang. Masing-masing elemen memiliki makna yang dikaitkan dengan perjalanan pendidikan dan pengabdian santri.
Akar melambangkan kekuatan tradisi dan sanad keilmuan pesantren. Kitab terbuka menggambarkan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual.
Sementara itu, kubah merepresentasikan nilai spiritual dan kehidupan keagamaan. Adapun bintang menjadi simbol cita-cita luhur serta arah pengabdian santri.
Logo tersebut sekaligus memberikan gambaran visual mengenai filosofi tema yang diusung PBNU pada peringatan Hari Santri tahun ini.
Hari Santri Tidak Boleh Berhenti sebagai Seremoni
PBNU juga mengingatkan agar Hari Santri tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.
Gus Gudfan mengatakan tradisi harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terdapat unsur ilmu, adab, keteladanan, kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab menjaga negeri.
Karena itu, momentum Hari Santri diharapkan diterjemahkan dalam kegiatan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut kemudian diarahkan kepada seluruh jajaran NU, pesantren, santri dan masyarakat agar peringatan tahun ini tidak hanya menjadi kegiatan simbolik.
Konsolidasi PBNU Masa Khidmah 2026–2031
Peluncuran tema dan logo Hari Santri 2026 juga berlangsung pada momentum konsolidasi organisasi PBNU setelah diumumkannya susunan Pengurus PBNU Masa Khidmah 2026–2031.
Momentum tersebut menjadi bagian dari fase baru kepengurusan PBNU sekaligus ruang untuk memperkuat agenda pengabdian organisasi kepada umat, masyarakat dan bangsa.
Dalam konteks itu, Hari Santri 2026 tidak hanya berbicara tentang peringatan sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menerjemahkan nilai-nilai pesantren ke dalam agenda masa kini.
Dari Pesantren untuk Masyarakat
PBNU mendorong seluruh struktur NU dari tingkat wilayah, cabang hingga ranting ikut menyosialisasikan tema dan logo Hari Santri 2026.
Peringatan diharapkan dapat diisi dengan kegiatan produktif yang menghidupkan nilai keilmuan, akhlak, persaudaraan dan kebangsaan.
Pesan tersebut sekaligus memperluas makna Hari Santri dari ruang pesantren menuju masyarakat yang lebih luas.
Santri diharapkan tetap memiliki akar yang kuat, tetapi tidak berhenti di lingkungan sendiri. Pengetahuan, pengalaman dan nilai yang diperoleh dari pesantren diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kontribusi sosial.
Akar Tetap, Pengabdian Meluas
Tema Hari Santri 2026 pada akhirnya membawa pesan tentang keseimbangan.
Santri didorong untuk menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap menjaga hubungan dengan tradisi keilmuan yang menjadi fondasi pesantren.
Bagi PBNU, akar bukan simbol untuk mundur ke masa lalu. Akar justru menjadi pijakan agar perjalanan ke depan memiliki arah.
Karena itu, “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” menjadi tema yang menghubungkan sejarah, pendidikan, spiritualitas dan tanggung jawab kebangsaan.
Hari Santri 2026 pun diarahkan bukan hanya untuk mengenang dari mana santri berasal, tetapi juga mengingatkan ke mana pengabdian harus dibawa.
Akar tetap berada di tradisi pesantren, sementara pengabdian diharapkan menjangkau seluruh negeri.















Komentar